Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Reasuransi Maipark Indonesia (Maipark) memproyeksikan, terjadi peningkatan risiko bencana alam akibat fenomena El Nino ekstrem yang berpotensi menekan portofolio reasuransi.
Direktur Utama Maipark, Kocu Andre Hutagalung menjelaskan bahwa El Nino memicu suhu lebih panas, musim kemarau lebih panjang, serta penurunan curah hujan secara signifikan. Dalam kondisi ekstrem, fenomena ini dapat memicu kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah Sumatra dan Kalimantan.
“Akibatnya, risiko yang ditanggung oleh portofolio reasuransi akan meningkat, baik dari sisi jumlah kejadian (frekuensi) maupun besarnya kerugian (keparahan)," ujar Kocu kepada Kontan, Kamis (16/4/2026).
Baca Juga: Masuk Industri Film, Amar Bank Optimistis Dongkrak Kinerja
Seiring dengan itu, Maipark juga memproyeksikan adanya kenaikan klaim katastropik, terutama yang berasal dari dampak kekeringan dan kebakaran hutan. Beberapa lini usaha asuransi disebut paling terdampak, antara lain sektor agro dan perikanan, energi, serta properti dan bisnis.
Kocu merinci, pada sektor agro dan perikanan, El Nino berpotensi memicu gagal panen di sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan, serta menurunkan hasil tangkapan ikan. Sementara di sektor energi, pembangkit listrik tenaga air seperti PLTA, PLTM, dan PLTMH berisiko mengalami gangguan akibat berkurangnya pasokan air.
"Adapun pada lini properti dan bisnis, risiko kerusakan bangunan akibat kebakaran hutan dan kerugian dari terhentinya operasional (misalnya penerbangan batal karena kabut asap)," lanjutnya.
Untuk mengantisipasi perubahan pola risiko tersebut, Maipark telah menerapkan pendekatan Dynamic Disaster Risk Assessment (DDRA). Melalui pendekatan ini, model risiko diperbarui secara berkala agar mencerminkan kondisi lingkungan dan iklim terkini.
Kocu menjelaskan, pembaruan ini menjadi krusial mengingat risiko bencana sangat dipengaruhi oleh perubahan faktor antropogenik, seperti perubahan tata guna lahan, sistem drainase, hingga pembangunan infrastruktur pengendali banjir. Selain itu, tren pemanasan global juga berpotensi menggeser pola serta intensitas bencana di Indonesia.
“Dengan pembaruan model yang berkelanjutan, peta risiko menjadi lebih adaptif dan relevan terhadap kondisi aktual,” jelasnya.
Baca Juga: Asuransi Digital Bersama (YOII) Targetkan Premi 2026 Stabil
Lebih lanjut, Maipark menilai El Nino ekstrem juga berpotensi memengaruhi skema reasuransi, khususnya dari sisi harga dan kapasitas proteksi katastropik. Peningkatan frekuensi dan potensi kerugian dinilai dapat mendorong kenaikan harga reasuransi.
"Kapasitas proteksi katastropik juga berpotensi menjadi lebih terbatas atau selektif, terutama pada wilayah dan lini bisnis yang memiliki eksposur tinggi terhadap risiko iklim tersebut," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













