kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.572.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 17.923   -10,00   -0,06%
  • IDX 6.082   50,75   0,84%
  • KOMPAS100 784   8,51   1,10%
  • LQ45 600   6,66   1,12%
  • ISSI 213   1,38   0,65%
  • IDX30 334   3,43   1,04%
  • IDXHIDIV20 427   4,44   1,05%
  • IDX80 89   0,92   1,03%
  • IDXV30 116   0,79   0,68%
  • IDXQ30 109   1,21   1,12%

Saham Big Banks Mulai Bangkit, Simak Rekomendasi Sahamnya


Jumat, 09 Oktober 2026 / 14:24 WIB
Saham Big Banks Mulai Bangkit, Simak Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Saham big banks kompak menguat pada perdagangan sesi pertama hari ini (9/10/2026). Namun, dalam sepekan, harga sahamnya masih turun (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Aura Putri | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Saham big banks kompak menguat pada perdagangan Sesi I, Jumat (9/10/2026). Namun, pergerakan saham bank jumbo di sepanjang sepekan terakhir cenderung melemah.

Mengutip data Stockbit, Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 0,83% ke level Rp 6.050 pada sesi pertama hari ini, meski secara mingguan masih terkoreksi 0,82%. Senada, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 1,32% ke Rp 3.070, tetapi masih melemah 0,32% dalam sepekan.

Sementara itu, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 1% ke Rp 4.040 dan mencatatkan penguatan 0,25% selama sepekan. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga menguat 0,88% ke Rp 3.440, dengan kenaikan mingguan sebesar 0,58%.

Baca Juga: OJK: Pengembangan Data Center Dapat Jadi Peluang bagi Modal Ventura

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, saham perbankan cenderung tertekan sepanjang pekan ini seiring dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan berlanjutnya aksi jual investor asing.

"Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya sikap risk-off investor di tengah ketidakpastian pasar global dan domestik," ujar Nafan kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).

Nafan mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah, dinamika imbal hasil obligasi pemerintah, serta ekspektasi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) turut memengaruhi persepsi risiko investor terhadap pasar saham Indonesia.

"Saham perbankan berkapitalisasi besar juga relatif sensitif terhadap arus dana asing karena memiliki bobot signifikan dalam pergerakan IHSG. Tekanan harga saham perbankan tidak serta-merta menunjukkan penurunan fundamental perbankan, tetapi juga dipengaruhi oleh sentimen pasar dan aliran dana yang masih belum kondusif," jelasnya.

Memasuki pekan depan, pergerakan saham perbankan diperkirakan masih cenderung mixed to cauntiously positive, dengan peluang penguatan technical rebound apabila tekanan jual mereda. Peluang tersebut juga bergantung pada kemampuan IHSG bertahan di area support psikologis 6.000.

Dari sisi fundamental, Nafan bilang, prospek sektor perbankan dalam jangka menengah dinilai masih ditopang oleh pertumbuhan kredit, kemampuan menjaga net interest margin (NIM), serta pengelolaan kualitas aset dan biaya pencadangan. Stabilitas suku bunga domestik juga berpotensi mendukung pertumbuhan kredit dan aktivitas intermediasi perbankan.

Meski demikian, investor masih perlu mencermati pergerakan rupiah, imbal hasil obligasi pemerintah, arah kebijakan The Fed, serta keberlanjutan aksi jual investor asing.

"Apabila sentimen pasar membaik dan aliran dana asing kembali masuk, saham-saham bank besar berpeluang mengalami pemulihan, terutama emiten dengan fundamental yang solid dan valuasi yang semakin menarik setelah koreksi," katanya.

 


Sebaliknya, tekanan jual yang berlanjut dapat memicu pelemahan lanjutan pada saham perbankan. Karena itu, investor perlu mencermati konfirmasi pembalikan arah harga dan volume transaksi, serta memperhatikan kondisi permodalan, kualitas kredit, dan prospek pertumbuhan laba.

Nafan merekomendasikan akumulasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 7.900. Rekomendasi ini didukung oleh kuatnya dana murah atau current account saving account (CASA) serta kualitas kredit BBCA yang terjaga.

Selanjutnya, BBNI memiliki target harga Rp 4.020, prospek saham BBNI ditopang oleh penurunan drastis Loan at Risk (LaR) penguatan layanan digital.

Sementara itu, BMRI ditargetkan mencapai Rp 4.720 didukung akselerasi CASA via Super Ap Livin' dan Kopra. Adapun BBRI memiliki target harga Rp 3.570, didukung oleh pertumbuhan kredit dan perbaikan kualitas aset.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×