kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.970   57,00   0,32%
  • IDX 5.696   53,01   0,94%
  • KOMPAS100 735   7,01   0,96%
  • LQ45 558   5,09   0,92%
  • ISSI 198   1,76   0,90%
  • IDX30 317   2,52   0,80%
  • IDXHIDIV20 390   0,90   0,23%
  • IDX80 84   0,83   1,00%
  • IDXV30 107   -0,16   -0,15%
  • IDXQ30 102   0,40   0,40%

Sulit buka cabang di luar negeri, Himbara desak BI revisi asas resiprokal


Senin, 23 Mei 2011 / 13:44 WIB
ILUSTRASI. Peserta BPJamsostek menggunakan protokol Layanan Tanpa Kontak Fisik di kantor cabang Menara BPJamsostek Jakarta, Selasa (21/7). Terhitung hingga 15 Juli 2020, jumlah pengajuan klaim JHT telah mencapai angka 1,33 juta kasus dengan nominal mencapai Rp16,47


Reporter: Nina Dwiantika |

JAKARTA. Perbankan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengeluh kepada Bank Indonesia (BI) karena kesulitan membuka cabang di luar negeri. Ketua Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara) Gatot M Suwondo, mendesak DPR RI dan BI dalam dua hal, di antaranya merevisi undang-undang No. 49 tahun 1960 dan mendorong bank sentral merevisi asas resiprokal antara bank asing dan bank lokal.

"Cabang kami PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) cabang New York ditekan untuk subsidiary," kata Gatot, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi XI DPR RI, Senin (23/5).

Gatot bilang, tak hanya di New York tetapi di Singapura dan di Tokyo pun tidak mudah untuk membuka cabang, sehingga ini dapat menyulitkan perkembangan bisnis di negara-negara tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×