kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   4.000   0,16%
  • USD/IDR 18.034   74,00   0,41%
  • IDX 5.185   -678,68   -11,57%
  • KOMPAS100 658   -103,29   -13,57%
  • LQ45 509   -81,53   -13,82%
  • ISSI 179   -22,02   -10,93%
  • IDX30 284   -45,14   -13,73%
  • IDXHIDIV20 366   -56,36   -13,33%
  • IDX80 75   -11,86   -13,59%
  • IDXV30 102   -13,53   -11,68%
  • IDXQ30 93   -14,99   -13,88%

UATAS Proyeksikan Pembiayaan Fintech Lending Berpotensi Tumbuh Kuat hingga 2027


Jumat, 16 Oktober 2026 / 20:36 WIB
UATAS Proyeksikan Pembiayaan Fintech Lending Berpotensi Tumbuh Kuat hingga 2027
ILUSTRASI. P2P Lending (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Plus Ultra Abadi (UATAS) memproyeksikan kinerja pembiayaan industri fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) berpotensi tumbuh kuat hingga 2027. Direktur Utama UATAS Iwan Setiawan mengatakan proyeksi itu ditopang kinerja industri sejauh ini yang masih bisa bertumbuh dobel digit. 

Asal tahu saja, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, outstanding pembiayaan fintech P2P lending tumbuh sebesar 22,07% secara Year on Year (YoY), dengan nilai mencapai Rp 106,94 triliun per Agustus 2026.

"Tren pertumbuhan itu didorong tingginya kebutuhan masyarakat terhadap akses pembiayaan yang mudah, cepat, dan terjangkau. Dengan demikian, pindar memegang peran strategis dalam peta inklusi keuangan nasional," ungkapnya dalam keterangan resmi, Jumat (16/10/2026).

Iwan juga mengatakan industri fintech lending hadir untuk melayani lapisan masyarakat yang belum terjangkau secara maksimal atau masyarakat underserved oleh institusi keuangan konvensional. Hal itu juga yang membuat permintaan pembiayaan fintech lending masih besar.

Baca Juga: Strategi Fintech UATAS untuk Menjaga Kualitas Pembiayaan

Dia bilang karakteristisk fintech lending tersebut yang membuat industri terus memperkuat sinergi dengan perbankan. Adapun sebesar 70% sumber pendanaan industri fintech lending berasal dari perbankan.

"Dalam ekosistem itu, kami bertindak sebagai mitra strategis perbankan untuk menjangkau segmen masyarakat yang lebih luas," ujar Iwan.

Iwan juga menjelaskan bahwa setiap lapisan masyarakat pada piramida ekonomi memiliki profil risiko yang beragam dan tetap layak mendapatkan pendanaan. Dia menyebut kunci utama keberhasilan industri fintech lending ke depannya, yakni kemampuan platform dalam menyediakan produk pembiayaan yang tepat sasaran atau matching product sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing borrower.

Di sisi lain, Iwan menerangkan kemudahan akses keuangan digital juga membawa tantangan, salah satunya potensi pinjaman berlapis. Menanggapi hal tersebut, Iwan menekankan pentingnya pemanfaatan sistem data sharing yang dikembangkan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) sebagai instrumen mitigasi risiko digital.

Baca Juga: UATAS Sebut Gelombang PHK Jadi Faktor yang Dicermati dalam Menyalurkan Pembiayaan

"Pemanfaatan data sharing yang beretika antarpenyelenggara menjadi solusi efektif dalam menganalisis rekam jejak kredit calon peminjam," tuturnya.

Selain itu, Iwan menyampaikan UATAS memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang difokuskan pada sistem pencegahan penipuan atau fraud prevention. Dia bilang kombinasi teknologi dan transparansi data sangat krusial untuk menjaga rasio tingkat kredit macet atau TWP90 industri tetap berada di bawah ambang batas aman 5%.

Dengan penguatan kualitas kredit dan tata kelola berbasis teknologi, Iwan meyakini industri dapat terus bertumbuh secara berkelanjutan, sehat, serta memberikan dampak sosial dan ekonomi yang positif bagi masyarakat Indonesia. 

Baca Juga: Akses Finansial Digital Meluas, UATAS dan AFPI Dorong Gen Z Melek Keuangan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×