KEUANGAN
Berita
BI Masih Menghitung NIM yang Ideal

BUNGA KREDIT

BI Masih Menghitung NIM yang Ideal


Telah dibaca sebanyak 894 kali
BI Masih Menghitung NIM yang Ideal

JAKARTA. Bank Indonesia masih mengutak-atik patokan net interest margin (NIM) yang ideal. Pejabat sementara Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menyatakan, otoritas perbankan tengah meminta setiap bank menyerahkan tiga ukuran yang menentukan NIM.

Ketiganya adalah biaya operasional tetap atau overhead cost, premi risiko, dan target laba yang dipasang manajemen. "Dalam situasi krisis, perbankan biasanya memasang premi risiko yang lebih tinggi. Otomatis, NIM ikut meningkat," kata Darmin.

Dari data yang diserahkan bank, BI akan menyusun semacam benchmark. "Nanti akan kami bandingkan juga dengan bank di luar negeri," ujarnya, Kamis (12/11).

Darmin memaklumi, NIM perbankan di Indonesia tinggi karena laju inflasi di negeri yang ngebut. Di negara dengan laju inflasi sekitar 2%-3%, NIM perbankan di bawah 4%.

Di Indonesia, laju inflasi tahunan bergerak di kisaran 5% sampai 6%. "Kisaran NIM perbankan 6%-7%," ungkapnya.

BI sendiri menginginkan agar NIM perbankan minimal turun di kisaran 5%. BI gatal tangan mengatur NIM karena ingin memaksa para bankir memangkas bunga kredit.

Maklumlah, BI menilai penurunan bunga kredit hingga kini masih jauh dari harapan. Selama September 2009, penurunan rata-rata bunga kredit hanya 12 basis poin.

Ketua Perhimpunan Bank-bank Nasional Sigit Purnomo menilai, NIM tidak perlu diatur atau dibatasi. "Kalaupun ditetapkan, pasti banyak bank tidak mengikuti," ujarnya.

Sigit menyarankan, BI menerbitkan imbauan agar bank menekan biaya operasional atau mengurangi margin di sektor tertentu saja.
Sigit juga tidak setuju jika bunga yang tinggi merupakan penyebab kredit seret. "Masalahnya justru ada di sektor riil," ujarnya.

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: KONTAN
Telah dibaca sebanyak 894 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • DJP minta caleg dan capres transparan data pajak

    +

    Pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan presiden baru sebentar lagi mewarnai tahun 2014

    Baca lebih detail..

  • Akbar Tandjung siap jadi cawapres Jokowi

    +

    Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung menyatakan siap maju sebagai bakal calon wakil presiden, termasuk berpasangan dengan Joko Widodo

    Baca lebih detail..