Kontan News
  : WIB    --   
indikator  I  

BI Masih Menghitung NIM yang Ideal

BI Masih Menghitung NIM yang Ideal

JAKARTA. Bank Indonesia masih mengutak-atik patokan net interest margin (NIM) yang ideal. Pejabat sementara Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menyatakan, otoritas perbankan tengah meminta setiap bank menyerahkan tiga ukuran yang menentukan NIM.

Ketiganya adalah biaya operasional tetap atau overhead cost, premi risiko, dan target laba yang dipasang manajemen. "Dalam situasi krisis, perbankan biasanya memasang premi risiko yang lebih tinggi. Otomatis, NIM ikut meningkat," kata Darmin.

Dari data yang diserahkan bank, BI akan menyusun semacam benchmark. "Nanti akan kami bandingkan juga dengan bank di luar negeri," ujarnya, Kamis (12/11).

Darmin memaklumi, NIM perbankan di Indonesia tinggi karena laju inflasi di negeri yang ngebut. Di negara dengan laju inflasi sekitar 2%-3%, NIM perbankan di bawah 4%.

Di Indonesia, laju inflasi tahunan bergerak di kisaran 5% sampai 6%. "Kisaran NIM perbankan 6%-7%," ungkapnya.

BI sendiri menginginkan agar NIM perbankan minimal turun di kisaran 5%. BI gatal tangan mengatur NIM karena ingin memaksa para bankir memangkas bunga kredit.

Maklumlah, BI menilai penurunan bunga kredit hingga kini masih jauh dari harapan. Selama September 2009, penurunan rata-rata bunga kredit hanya 12 basis poin.

Ketua Perhimpunan Bank-bank Nasional Sigit Purnomo menilai, NIM tidak perlu diatur atau dibatasi. "Kalaupun ditetapkan, pasti banyak bank tidak mengikuti," ujarnya.

Sigit menyarankan, BI menerbitkan imbauan agar bank menekan biaya operasional atau mengurangi margin di sektor tertentu saja.
Sigit juga tidak setuju jika bunga yang tinggi merupakan penyebab kredit seret. "Masalahnya justru ada di sektor riil," ujarnya.


SUMBER : KONTAN
Editor Hendra Gunawan

BUNGA KREDIT

Feedback   ↑ x