Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) membutuhkan sinergi antara bqnlk perekonomian rakyat (BPR), securities crowdfunding (SCF) dan koperasi. Tujuannya membangun ekosistem keuangan yang terintegrasi bagi UMKM demi UMKM naik kelas.
Di sisi lain, perlu juga upaya mendorong inklusi dan literasi keuangan UMKM di Indonesia. Menurut Ednaz Hermawan dari Direktorat Pengembangan UMKM dan Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), , sebenarnya ceruk pembiayaan banyak ruang terbuka lebar.
Apalagi OJK dan Bank Indonesia (BI) telah membuat berbagai aturan agar pembiayaan UMKM meningkat. Mengingat jumlah UMKM 58 juta atau 98% dari total pelaku usaha di Indonesia. Bahkan banyak kredit dikucurkan mulai dari kredit usaha rakyat (KUR), kredit industri padat karya dan lainnya.
Hanya saja, Ednaz juga mempertanyakan apakah masyarakat sudah tahu mengenai produk-produk itu. ”Inilah pentingnya literasi dan inklusi keuangan bagi UMKM perlu terus dilakukan sebagaimana juga dilakukan di OJK,” ujarnya, Kamis (12/2).
Ketua Koperasi TC Invest, Iqbal Alan Abdullah mengatakan, UMKM menghadapi masalah dalam akses pendanaan yang terjangkau karena ada kendala masalah administrasi, jaminan, dan manajerial.
Kemudian dalam konteks mendorong UMKM naik kelas, diperlukan adanya ekosistem yang memungkinkan UMKM ini terus terlayani sesuai dengan peningkatan kebutuhannya.
”Jadi kami melihat perlunya membangun ekosistem ini. Yang ultra mikro ini kita besarkan di koperasi, kemudian naik kelas lagi maka kita dorong dia dibantu oleh BPR, setelah itu naik kelas lagi kemudian gabung ke securities crowdfunding. Hal ini sudah terbukti di TC Invest,” ujar Iqbal.
Baca Juga: BPR Jatim Masuk ke Bisnis Emas, Bidik Pertumbuhan Kredit 30% pada 2026
Direktur Operational TC Invest, M Dedi Gunawan menjelaskan, butuh kolaborasi tiga pilar dalam pengembangan UMKM, yaitu koperasi sebagai community-based finance, BPR sebagai perbankan mikro formal, dan securities crowdfunding sebagai akses pasar modal digital.
Sinergi ini dilakukan bertahap. Tahap pertama, inkubasi oleh koperasi, dengan melakukan pembinaan UMKM antara lain pembiayaan skala mikro, dan membantu legalitas dan laporan keuangan sederhana.
Tahap kedua, scale up oleh BPR dengan pembiayaan lebih besar dengan cashflow melalui system perbankan, dan peningkatan bankability UMKM. Tahap ketiga adalah ekspansi (SCF), melalui penghimpunan dana publik, skema saham atau sukuk, dengan peningkatan valuasi usaha.
”Sinergi semacam ini akan sangat bermanfaat. Untuk UMKM pembiayaan berjenjang dan berkelanjutan, untuk koperasi ekosistem dan diversifikasi pendapatan, untuk BPR pipeline debitur berkualitas, dan untuk SCF deal flow UMKM terkurasi,” ucap Dedi.
Selanjutnya: Trump Berencana Pangkas Sejumlah Tarif Baja dan Aluminium
Menarik Dibaca: 15 Menu Diet untuk Sarapan agar Berat Badan Turun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)