Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Dupla Kartini
JAKARTA. Tahun 2016 menjadi momen menggembirakan bagi pelaku industri asuransi jiwa. Soalnya keuntungan pelaku industri naik dobel digit dari tahun lalu.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Oktober 2016, pelaku industri asuransi jiwa mengantongi laba setelah pajak Rp 7,4 triliun, naik 17,5% secara year-on-year (yoy). Kenaikan keuntungan ini sejalan dengan pertumbuhan premi asuransi jiwa.
Selama 10 bulan pertama tahun ini, industri asuransi jiwa mengantongi premi Rp 105,3 triliun. Angka ini naik 25,2% secara yoy. "Laba industri tahun ini banyak terdorong oleh hasil underwriting yang lebih baik," kata Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim. Dia menyebut pertumbuhan premi karena optimalisasi saluran pemasaran mulai dari bancassurance hingga agen.
Terkerek hasil investasi
Laba asuransi jiwa juga tertolong hasil investasi yang makin ciamik. Per Oktober 2016, pelaku usaha asuransi jiwa berhasil mendapat hasil investasi Rp 24,1 triliun. Padahal periode sama tahun kemarin, hasil investasi bisa dikantongi industri Rp 4,8 triliun.
Mekarnya hasil investasi tahun ini tak lepas dari meningkatnya kinerja pasar modal. Berbeda kondisi tahun lalu dimana kinerja hasil investasi tertekan oleh terjerembabnya pasar modal. Maklum penempatan dana banyak di pasar modal seperti saham dan reksadana.
Salah satu yang berhasil mencatatkan pertumbuhan laba tinggi adalah PT Asuransi Jiwasraya. Selama 10 bulan pertama tahun ini, perseroan ini mengantongi keuntungan Rp 1,04 triliun, naik 373,64%.
Direktur Jiwasraya Harry Prasetyo menyebut, laba tahun ini didukung produktivitas yang lebih baik terutama menggenjot pendapatan premi. Per Oktober, perusahaan ini mencatatkan premi Rp 14,1 triliun. Padahal periode sama tahun lalu, premi perseroan ini Rp 7,7 triliun.
Menurut Harry, pasar modal bergairah karena program pengampunan pajak ikut berdampak positif bagi laba lewat naiknya hasil investasi secara signifikan. "Sebelumnya kami mengalihkan investasi ke pasar modal sebelum tax amnesty jalan," ujar dia.
PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) mengaku masih merugi di tahun keduanya beroperasi secara penuh. Presiden Direktur and CEO BCA Life Christine Setyabudhi menilai hal tersebut wajar. Biasanya perusahaan asuransi jiwa akan menanggung rugi lima-delapan tahun pertama. Makanya, tahun ini dia memprediksikan, masih merugi Rp 33 miliar atau naik rugi tahun lalu Rp 25 miliar.
Agar lebih cepat untung, BCA Life agresif memasarkan produk. "Target kami di tahun keempat bisa break even point," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













