kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.961   48,00   0,27%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

2 Tantangan OJK mendorong peran jasa keuangan


Rabu, 22 November 2017 / 12:17 WIB


Reporter: Galvan Yudistira | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan ada dua tantangan regulator ke depan. Tantangan pertama adalah terkait pembiayaan infrastruktur dan kedua adalah mengenai inklusi keuangan.

Hal ini disampaikan Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner OJK ketika perayaan ulang tahun OJK ke-6 di Lapangan Monas.

Menurut Wimboh, terkait pembiayan infrastruktur, instrumen pasar modal akan menjadi sumber dana yang diandalkan. "Pasar modal akan ditingkatkan perannya," kata Wimboh, Rabu (22/11).

Diharapkan, instrumen pembiayaan infrastruktur dari pasar modal lebih berkembang ke depan. Saat ini menurut Wimboh sudah ada beberapa instrumen yang cukup bagus untuk pembiayaan infrastruktur seperti sekuritisasi piutang dan aset.

Ke depan diharapkan instrumen perpetual funding (pendanaan berkelanjutan) bisa muncul. Dengan tenor pembiayaan yang panjang, infrastruktur membutuhkan produk atau instrumen pembiayaan hybrid capital.

Selain infrastruktur menurut Wimboh, tantangan kedepan adalah bagaimana meningkatkan inklusi keuangan. OJK saat ini sedang fokus ke peningkatan akses keuangan ke daerah terpencil luar jawa.

Harapannya, pada 2019 nanti rasio inklusi keuangan masyarakat bisa mencapai 75%. Saat ini menurut Wimboh rasio inklusi keuangan baru mencapai 65%.

Dengan inklusi dan literasi yang optimal, diharapkan masyarakat bisa lebih paham dengan investasi bodong.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×