Reporter: Ferry Saputra | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, akses digital saat ini makin berkembang pesat dan mudah untuk dijangkau masyarakat. Seiring hal itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono menerangkan berbagai modus penipuan baik fraud dan scam, serta isu keamanan data pribadi masih menjadi tantangan saat ini.
Dengan demikian, Dicky menyebut pemahaman mengenai produk dan ekosistem keuangan makin diperlukan masyarakat, termasuk generasi muda, agar bisa terhindar dari ancaman berbagai modus penipuan hingga isu keamanan data pribadi.
"Generasi muda hari ini tumbuh dalam lingkungan keuangan yang makin digital. Hal itu adalah kemajuan dan peluang yang besar. Ketika transaksi bisa selesaikan secara real time, apakah kemampuan dalam membuat keputusan juga bisa dilakukan secara real time?," katanya saat menghadiri acara Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO) Tahun 2026, Jakarta Selatan, Kamis (25/9/2026).
Baca Juga: Industri Asuransi Dorong Pemanfaatan AI Secara Aman
Dicky menekankan, OJK sebenarnya juga terus-menerus berupaya secara terstruktur dan sistematis untuk membangun ekosistem keuangan digital yang lebih baik. Menurutnya, semua itu tidak bisa dengan teknologi saja, tetapi perlu pemahaman yang baik dari masyarakat.
Oleh karena itu, Dicky menilai perlunya penguatan literasi keuangan agar masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga memahami karakteristik dan risiko produk yang digunakan.
"Hal itu menjadi sangat penting. Betapa besar risiko yang dihadapi di sistem keuangan, ketika tidak bisa memahami bagaimana sebenarnya bisnis model yang ada di ekosistem ekonomi keuangan digital," ucapnya.
Menurut Dicky, risiko di ekosistem keuangan digital masih terjadi saat ini. Hal itu juga yang tercermin dari masih adanya masyarakat yang menjadi korban dari pinjaman online (pinjol) ilegal, kerugian dari judi online, hingga kerugian dari scam dan fraud.
Dalam konteks itu, Dicky menilai perlunya penguatan pemahaman keuangan sedari dini, khususnya sejak usia sekolah. Dia bilang salah satunya juga berkolaborasi dengan berbagai stakeholder. Hal itu juga direalisasikan dalam bentuk buku tentang literasi keuangan syariah yang disusun oleh OJK.
Terkait pelaksanaan ISFO 2026, OJK mencatat, terdapat 11.952 peserta yang mengikuti kegiatan tersebut. Dicky menerangkan jumlah peserta tumbuh 15,3%, dibandingkan pelaksanaan ISFO 2025. Dia bilang hal itu juga menunjukkan antusiasme tinggi terhadap literasi dan edukasi keuangan syariah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














