kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Ada pandemi corona, LPS prediksi kredit perbankan cuma tumbuh 3,3% pada tahun ini


Selasa, 23 Juni 2020 / 20:12 WIB
ILUSTRASI. Karyawan membersihkan logo baru Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jakarta


Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menaksir pertumbuhan kredit tahun cuma akan tumbuh 3,3%, pandemi corona yang bikin masyarakat menahan konsumsi dan korporasi enggan ekspansi jadi alasannya.

“Di saat yang sama bank juga lebih selektif memberikan kredit baru untuk menjaga agar risiko kredit tidak ikut meningkat,” papar LPS dalam indikator likuiditas Juni 2020 yang dikutip Kontan.co.id.

Baca Juga: Bisnis penjaminan Eximbank dinilai mampu dorong kualitas kredit bank

Mulai April 2020, perlambatan kredit sejatinya mulai terlihat dengan pertumbuhan yang merosot dibandingkan Maret 2020 menjadi 5,73% (yoy). Turunnya penyaluran pertumbuhan kredit merupakan dampak pelemahan dari sisi demand dan supply. Dari sisi demand dampak dari pandemi Covid-19 dan kebijakan PSBB menyebabkan penurunan aktivitas ekonomi secara signifikan.

Sedangkan dari kinerja penghimpunan dana, LPS menaksir pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan akan cenderung stabil dengan kecenderungan meningkat. DPK diprediksi bisa tumbuh 7,9% hingga akhir tahun.

Corporate Secretary Bank Mandiri Rully Setiawan mengakui, sejak kuartal II-2020, dampak pandemi memang mulai terasa buat perseroan. Alasannya terjadi peningkatan risiko kredit dari para debitur perseroan yang terimbas pandemi.

Adapun hingga 20 Juni 2020, bank berlogo pita emas ini tercatat sudah memberikan restrukturisasi kredit terhadap lebih dari 400.000 debitur dengan baki kredit hingga Rp 70 triliun.

“Sejak kuartal II, dan seterusnya akan ada perlambatan kinerja perseroan. Ini dipicu kenaikan kolektabilitas 2 akibat keterlambatan bunga dari debitur terimbas pandemi. Kami juga melihat adanya risiko pengetatan likuiditas seiring penundaan pembayaran pokok,” jelasnya.

Baca Juga: Pilah-pilih saham bank, mana yang paling menarik?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×