Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank-bank swasta menyiapkan berbagai strategi untuk bertahan di tengah iklim persaingan simpanan valuta asing (valas) yang lebih kompetitif setelah pemerintah meningkatkan suku bunga deposito valas dolar Amerika Serikat (AS) di bank-bank milik negara (Himbara).
Mengingatkan kembali, pemerintah menaikkan suku bunga deposito dolar AS di Himbara menjadi 4% mulai November 2025 lalu. Sejak itu, Kontan mencatat simpanan deposito valas Himbara kompak meningkat.
Namun, peningkatan di Himbara nampaknya tak serta-merta menjadi tantangan bagi bank swasta. Padahal, sebagian bank swasta masih teguh menahan tingkat suku bunga demi menjaga efisiensi beban dana.
Ambil contoh Bank Danamon. Hingga akhir tahun lalu, deposito valas Bank Danamon tumbuh hampir 20% secara tahunan (year-on-year/yoy). Consumer Funding and Wealth Business Head Bank Danamon Ivan Jaya meyakini, pertimbangan nasabah dalam menaruh simpanannya tak terbatas pada nilai bunga, tetapi juga pada kemudahan bertransaksi.
Baca Juga: KBI Resmi Jadi Lembaga Kliring Derivatif Pasar Uang Valas
Namun begitu, Ivan bilang pihaknya tetap berupaya menjaga tingkat suku bunga deposito valas tetap kompetitif dengan pasar. “Sekaligus menyelaraskan dengan kebutuhan likuiditas valas di internal Danamon,” ungkap Ivan kepada Kontan, awal pekan ini.
Menengok situs resminya, suku bunga deposito online valas dolar AS Bank Danamon ada di rentang 2,5%–3%, sementara deposito berjangka dan deposito on call masing-masing sebesar 0,25% dan 0,1%.
Di luar itu, Ivan menekankan bahwa Bank Danamon tak hanya bertumpu pada deposito dalam menjaga porsi simpanan valas, tetapi juga mengandalkan dana murah. Pun tahun ini, bank menargetkan simpanan valas tumbuh minimal 15% yoy, dengan mengandalkan produk tabungan multivaluta yang terintegrasi dengan ekosistem digital Bank Danamon.
Agak berbeda, Bank Mega memilih menahan tingkat suku bunga deposito valas. Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib menjelaskan, itu dilakukan demi menjaga tingkat loan to deposit ratio (LDR) terjaga efisien.
“Yang terjadi kami harus menjaga LDR secara mata uang juga. Karena persaingan yang ada, tentu kami jadi susah menurunkan suku bunga valas,” kata Kostaman saat ditemui Kontan belum lama ini.
Baca Juga: Kenaikan Bunga Deposito Valas 4% Dorong Simpanan Valas Himbara Melonjak
Saat ini, suku bunga deposito valas Bank Mega jauh lebih rendah, yakni di level 0,1%–0,5%. Namun, bunga deposito via Msmile memang cukup tinggi di level 2,75%–3%.
Pada dasarnya, kenaikan suku bunga memang otomatis bakal meningkatkan biaya dana (cost of fund/COF). Kostaman pun mengaku, dibanding COF rupiah yang berhasil turun 1% tahun lalu, COF valas Bank Mega lebih susah turun.
Meski begitu, Kostaman bilang tak terlihat tren penurunan pada simpanan deposito valas Bank Mega dalam dua bulan terakhir. “Enggak juga,” katanya.
Bank Central Asia (BCA) juga terpantau menahan tingkat suku bunganya. Berdasarkan situs resminya, deposito valas dolar AS BCA tetap di level 1,5%–2% sejak Desember 2023.
Menurut EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn, penentuan tingkat suku bunga deposito valas bank lebih dipengaruhi oleh perkembangan suku bunga acuan, parameter makro ekonomi, serta kondisi likuiditas bank.
“BCA memperhatikan tingkat suku bunga dan senantiasa melakukan review secara berkala,” tutur Hera.
Selanjutnya: Imlek dan Puasa Jadi Katalis Positif Kinerja Sido Muncul
Menarik Dibaca: 30 Ucapan Valentine Santai Ini Bisa Bikin Gebetan Klepek-klepek
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













