Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Jelang penghujung kuartal II-2026, kinerja kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 4 menunjukkan tren menarik: sementara bank milik negara (Himbara) berhasil mendorong laju pertumbuhan, bank swasta nampaknya lebih terseok.
Bank Mandiri tampil dengan kinerja paling apik. Dalam lima bulan pertama, bank berkode saham BMRI ini berhasil mencetak laba bersih secara bank only sebesar Rp 23,31 triliun, tumbuh 18,64% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan laba Bank Mandiri menjadi satu-satunya yang menyentuh level double digit dalam periode ini.
Tak heran, kinerja intermediasi Bank Mandiri memang moncer. Hingga Mei 2026, penyaluran kredit bank tumbuh 20,56% yoy menjadi Rp 1.578,94 triliun, pun pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) naik 9,97% yoy menjadi Rp 34,85 triliun.
Baca Juga: RUPST KB Bank Putuskan Laba Ditahan dan Angkat Dua Direktur Baru
Dari sisi operasional lainnya, pendapatan komisi Bank Mandiri juga naik 24,44% yoy menjadi Rp 9,36 triliun. Di saat yang sama, bank menurunkan beban impairment sebesar 15,83% yoy menjadi Rp 3,21 triliun.
Di posisi kedua ada Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang laba bersihnya secara bank only tumbuh 9,52% yoy menjadi Rp 20,42 triliun per Mei 2026.
Itu sejalan dengan penyaluran kredit bank yang tumbuh 12,23% yoy menjadi Rp 1.427,19 triliun dan NII yang naik 6,64% yoy menjadi Rp 48,5 triliun, sedangkan beban impairment-nya naik 7,5% yoy menjadi Rp 19,06 triliun dan pendapatan komisinya tumbuh lebih terbatas 4,48% yoy menjadi Rp 22,97 triliun.
Selanjutnya ada Bank Negara Indonesia (BNI). Laba bersih bank ini tumbuh 7,06% yoy menjadi Rp 9,05 triliun secara bank only dalam lima bulan terakhir.
Sejatinya kinerja kredit BNI paling apik, dengan catatan pertumbuhan 24,55% yoy menjadi Rp 940,88 triliun, pun NII bank tumbuh 15,18% yoy menjadi Rp 18,12 triliun.
Hanya saja, beban impairment bank melonjak 30,58% yoy menjadi Rp 3,72 triliun. Padahal, pendapatan komisi bank sebenarnya berhasil tumbuh 10,81% yoy menjadi Rp 4,43 triliun.
Nah, di posisi terakhir ada Bank Central Asia (BCA). Satu-satunya bank swasta dalam KBMI 4 ini hanya mampu menumbuhkan laba bersih secara bank only sebesar 2,07% yoy menjadi Rp 25,68 triliun per Mei 2026.
Memang, penyaluran kredit BCA hanya tumbuh 4,85% yoy menjadi Rp 969,09 triliun. NII bank bahkan terkoreksi 0,5% yoy menjadi Rp 32,95 triliun lantaran pendapatan bunga hanya tumbuh 0,3% yoy menjadi Rp 38,4 triliun sementara beban bunga naik 5,41% yoy menjadi Rp 5,45 triliun.
Bank berkode saham BBCA ini sejatinya sudah mengoptimalkan pos operasional lainnya. Yang mana, beban impairment turun 13,62% yoy menjadi Rp 1,21 triliun di saat pendapatan komisi masih tumbuh 9,2% yoy menjadi Rp 8,44 triliun.
Baca Juga: Sinergi Multifinance Mendorong Pertumbuhan UMKM
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













