Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank-bank berkapitalisasi besar yang telah melaporkan kinerja keuangan pada tahun buku 2025 mencatatkan kinerja laba bersih yang cukup beragam.
Bank jumbo seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menunjukkan dinamika kinerja yang dipengaruhi tekanan suku bunga tinggi sepanjang tahun lalu.
BBCA menjadi bank dengan raihan laba terbesar mencapai Rp57,5 triliun, tumbuh 4,9% secara tahunan (year on year/yoy). Disusul BBRI yang membukukan laba bersih Rp57,13 triliun, meskipun capaian tersebut menyusut 5,26% yoy.
BMRI membukukan laba sebesar Rp56,3 triliun, naik tipis 0,93%. Sementara itu, BBNI meraih laba bersih Rp20,11 triliun, turun 6,97% yoy.
Baca Juga: Pefindo Tetapkan Rating idAA- Asuransi Central Asia (ACA), Ini Risiko yang Mengintai
Pertumbuhan Kredit: BBNI Tertinggi
Dari sisi penyaluran kredit, BBNI mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,9% menjadi Rp899,53 triliun.
Diikuti oleh:
-
BMRI: naik 13,4% menjadi Rp1.895 triliun
-
BBRI: tumbuh 12,31% menjadi Rp1.521,49 triliun
-
BBCA: naik 7,7% menjadi Rp993 triliun
Dana Pihak Ketiga: BMRI Unggul
Dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK):
-
BMRI mencatat DPK terbesar Rp2.105,8 triliun (+23,9%)
-
BBRI sebesar Rp1.466,84 triliun (+7,4%)
-
BBCA mencapai Rp1.249 triliun (+10,2%)
-
BBNI sebesar Rp1.040 triliun (+29,2%)
Suku Bunga Tinggi Tekan Laba
Senior Market Analyst Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas menilai, tekanan utama terhadap laba perbankan sepanjang 2025 berasal dari kebijakan suku bunga tinggi.
“Laba bersih 2025 memang cenderung cukup lesu. Sentimen utamanya adalah meningkatnya cost of fund sebagai akibat dari kebijakan suku bunga yang cukup lama berada di level tinggi sebelum akhirnya melandai,” ujarnya kepada kontan.co.id, Kamis (26/2/2026).
Likuiditas yang ketat membatasi ekspansi margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Namun, kinerja industri masih dinilai sesuai ekspektasi pasar.
“Paling tidak kinerjanya masih sesuai target dan guidance analis. Perbankan memang tidak mengejar laba agresif, tapi lebih menitikberatkan pada kualitas aset,” katanya.
Prospek 2026: Kredit Berpotensi Bangkit
Memasuki 2026, prospek sektor perbankan dinilai lebih cerah seiring penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia ke level 4,75%.
Baca Juga: 17 Tahun Berdiri, PT SMI Salurkan Pembiayaan Mencapai Rp 274,96 Triliun
“Penurunan suku bunga ini ditujukan agar permintaan kredit bisa meningkat. Kalau cost of fund turun, maka potensi perbaikan NIM akan terjadi secara bertahap,” jelasnya.
Ia memperkirakan laba perbankan berpotensi kembali tumbuh dua digit dengan dukungan:
-
Penurunan biaya dana
-
Stabilnya rasio kredit bermasalah (NPL)
“NPL masih dalam batas aman karena bank sudah melakukan mitigasi risiko. Jadi ruang pertumbuhan laba tetap terbuka,” imbuhnya.
Belanja pemerintah untuk hilirisasi dan pembangunan infrastruktur juga berpotensi menjadi katalis pertumbuhan kredit korporasi.
Risiko Global Masih Membayangi
Namun, sikap hati-hati Federal Reserve berpotensi memengaruhi stabilitas rupiah dan membatasi ruang pelonggaran moneter domestik.
Di sisi lain, sisa restrukturisasi kredit, inflasi, serta daya beli masyarakat masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
“Kalau ekspektasi ekonomi belum sepenuhnya pulih, konsumsi bisa tertahan. Itu juga menjadi faktor yang perlu dicermati,” tutupnya.
Rekomendasi Saham Big Banks
Nafan merekomendasikan saham BBCA dengan accumulative buy TP Rp 7.650, saham BBNI accumulative buy TP Rp 4.510, BBRI accumulative buy TP Rp 3.910 per saham, dan BMRI accumulative buy TP Rp 5.000 per saham.
Sementara itu, Farrell Nathanael, Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, menilai perlambatan kinerja industri juga dipicu oleh tekanan NIM, tingginya cost of fund, serta peningkatan pencadangan.
Baca Juga: Ubah Nama, OJK Beri Izin Usaha Penilai Kerugian Asuransi PT Bahtera Adjuster Persada
"Kombinasi faktor tersebut membuat laba perbankan tidak tumbuh agresif. Perlambatan terutama disebabkan oleh tekanan pada NIM, biaya dana yang masih tinggi, serta peningkatan cost of credit yang menekan profitabilitas,” ujarnya.
Meski demikian, ia melihat peluang pemulihan bertahap pada 2026.
“Kami melihat potensi perbaikan secara gradual, didukung oleh pemulihan ekonomi dan permintaan kredit yang lebih sehat. Namun risiko kualitas aset tetap perlu dicermati,” tuturnya.
Fundamental Tetap Solid
Di tengah tantangan seperti inflasi, depresiasi rupiah, dan potensi kenaikan NPL, fundamental bank-bank besar nasional tetap dinilai solid berkat permodalan dan likuiditas yang kuat.
Farrell merekomendasikan beli (BUY) untuk saham perbankan big caps, yakni BBCA dengan target harga Rp 9.500, BBRI Rp 5.000, BMRI Rp 5.800, serta BBNI dengan target harga Rp 5.300.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













