kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

AFTECH Sebut Fenomena Tech Winter Eliminasi Start-up yang Tak Sesuai Kebutuhan Pasar


Kamis, 02 April 2026 / 10:06 WIB
AFTECH Sebut Fenomena Tech Winter Eliminasi Start-up yang Tak Sesuai Kebutuhan Pasar
ILUSTRASI. Fintech, Pinjaman Online, Pinjol (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fenomena tech winter sempat menjadi tantangan bagi ekosistem fintech Tanah Air belakangan ini. Adapun tech winter adalah fenomena yang kerap ditemui di perusahaan start-up. Kondisi itu dapat diartikan sebagai suatu periode penurunan investasi teknologi dan aktivitas bisnis yang berkepanjangan dan signifikan.

Terkait hal itu, Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) mengibaratkan tech winter seperti blessing in disguise, yang mana ada manfaat tersembunyi di balik musibah. Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto menerangkan secara alami adanya fenomena tech winter itu mengeliminasi start-up yang memang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar. 

"Iya, tidak sesuai sama keinginan pasar," ujarnya saat ditemui Kontan di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (26/3/2026).

Baca Juga: Di Tengah Tech Winter, OJK Soroti Peluang AI bagi Modal Ventura

Jadi, Firlie mengatakan banyak founder dari start-up yang visinya hanya untuk mencari uang. Dia menjelaskan karakteristik founder tersebut biasanya mendirikan start-up, kemudian mencari investor, lalu exit. 

"Hal itu kadang-kadang membuat ekosistem start-up menjadi tidak sehat. Ditambah, adanya kasus-kasus yang sebelumnya terjadi. Jadi, kami perlu dorong juga," ucapnya.

Secara alami, Firlie menyebut start-up yang survive sekarang itu sudah mengutamakan bisnis modal dan bottom line. Dengan demikian, perusahaan start-up tersebut bisa berkelanjutan karena tidak mengandalkan investasi lagi. 

Baca Juga: Perangi Penipuan di Fintech & Keuangan Digital, Aftech dan Jalin Bentuk Konsorsium

"Jadi, mereka mengandalkan revenue, komersial modal. Itu yang bikin survive. Proses seleksi alaminya itu sudah terjadi. Jadi, ke depannya, start-up yang survive adalah mereka yang sehat," tuturnya.

AFTECH juga angkat bicara mengenai start-up yang baru bermunculan. Firlie menerangkan start-up yang baru mulai tentu harus melihat secara komersial juga, seperti produk yang mereka bangun harus melihat pasar dan komersial modalnya harus kokoh. 

Firlie juga mengatakan AFTECH mendorong agar start-up yang ada saat ini terus meningkatkan tata kelola. Sebab, tata kelola menjadi unsur yang penting bagi keberlanjutan di ekosistem fintech. Hal itu juga bercermin dari kondisi start-up sebelumnya yang mengalami fraud.

"Start-up kemarin banyak yang fraud, seperti Tanihub dan e-fishery. Oleh karena itu, kami (AFTECH) terus menegakkan governance dan aturan," kata Firlie. 

Baca Juga: AFTECH Rilis White Paper Potensi Kolaborasi Bank dan Pindar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×