kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.911   -17,00   -0,09%
  • IDX 6.193   74,07   1,21%
  • KOMPAS100 796   7,84   0,99%
  • LQ45 608   4,93   0,82%
  • ISSI 217   4,59   2,15%
  • IDX30 337   1,37   0,41%
  • IDXHIDIV20 431   1,76   0,41%
  • IDX80 91   0,94   1,05%
  • IDXV30 118   1,35   1,16%
  • IDXQ30 110   0,20   0,18%

Allo Bank Proyeksikan NIM di Kisaran 10%-10,5% hingga Akhir 2026


Selasa, 06 Oktober 2026 / 20:47 WIB
Allo Bank Proyeksikan NIM di Kisaran 10%-10,5% hingga Akhir 2026
ILUSTRASI. Allo Bank (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) memperkirakan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) berada di kisaran 10%-10,5% hingga akhir 2026. Proyeksi tersebut mempertimbangkan tekanan biaya dana atau cost of fund (CoF) yang masih tinggi.

Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank Ganda Raharja Rusli mengatakan, berdasarkan laporan keuangan terbaru, NIM Allo Bank berada di kisaran 10,4%-10,9%. Level tersebut tergolong tinggi dibandingkan rata-rata bank konvensional yang berada di kisaran 3%-5%.

Namun, menurut Ganda, level NIM tersebut masih sesuai dengan model bisnis Allo Bank sebagai bank digital yang berfokus pada kredit konsumer dengan risiko dan yield yang relatif tinggi.

Baca Juga: Pefindo Proyeksi Penerbitan Obligasi Multifinance Berlanjut pada Kuartal IV-2026

"Tekanan NIM terutama bersumber dari kenaikan cost of fund, bukan karena penurunan yield kredit yang drastis," kata Ganda kepada kontan.co.id, Selasa (6/10/2026).

Dia menjelaskan, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) mendorong bank menaikkan bunga simpanan atau deposito untuk mempertahankan dana nasabah.

Di sisi lain, tingkat bunga kredit tidak dapat dinaikkan secara sporadis karena berisiko meningkatkan non-performing loan (NPL). Kondisi tersebut membuat ruang bank untuk menaikkan yield kredit menjadi terbatas ketika biaya dana meningkat.

Ganda menambahkan, meskipun pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) Allo Bank masih baik, struktur simpanan perseroan masih didominasi deposito berjangka dengan penawaran bunga yang tinggi.

"Persaingan DPK di segmen bank digital masih ketat," ujarnya.

Untuk mempertahankan likuiditas, Allo Bank menawarkan sejumlah fitur simpanan fleksibel dengan suku bunga tinggi, seperti Allo Grow dan Allo Deposito. Di sisi kredit, bank cenderung mempertahankan yield pada tingkat yang kompetitif agar penyaluran kredit konsumer tetap tumbuh.

Baca Juga: CIMB Niaga Proyeksikan NIM di Bawah 4% hingga Akhir 2026

Ke depan, Ganda memperkirakan NIM Allo Bank akan relatif stabil di kisaran 10%-10,5% hingga akhir tahun.

Potensi penurunan suku bunga acuan pada periode mendatang dinilai dapat membantu menurunkan beban biaya dana. Selain itu, peningkatan transaksi digital harian diharapkan secara bertahap meningkatkan porsi current account savings account (CASA).

"Sehingga mencegah penurunan NIM berlanjut secara drastis," ujarnya.

Untuk menjaga margin bunga agar tidak tergerus lebih jauh, Allo Bank juga mengoptimalkan transaksi harian seperti QRIS dan bill payment. Strategi tersebut ditujukan untuk meningkatkan tabungan berbiaya rendah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap deposito berbunga tinggi.

Bank juga menggenjot fee based income melalui pendapatan komisi dari transaksi produk digital dan provisi. Pendapatan nonbunga tersebut diharapkan dapat menopang laba tanpa menambah tekanan pada margin bunga.

Selain itu, Allo Bank mengoptimalkan otomatisasi underwriting kredit digital untuk menekan cost of credit dan beban operasional. Strategi tersebut sekaligus diarahkan untuk menjaga rasio BOPO tetap berada pada level yang efisien.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×