kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.135.000   50.000   1,62%
  • USD/IDR 16.894   85,00   0,51%
  • IDX 8.017   -218,65   -2,65%
  • KOMPAS100 1.125   -31,30   -2,71%
  • LQ45 812   -21,87   -2,62%
  • ISSI 286   -6,72   -2,30%
  • IDX30 429   -10,83   -2,46%
  • IDXHIDIV20 517   -9,75   -1,85%
  • IDX80 126   -2,90   -2,25%
  • IDXV30 141   -2,38   -1,66%
  • IDXQ30 138   -3,69   -2,61%

Amvesindo Sebut Industri Modal Ventura Kian Selektif dan Fokus ke Sektor Defensif


Senin, 02 Maret 2026 / 16:16 WIB
Amvesindo Sebut Industri Modal Ventura Kian Selektif dan Fokus ke Sektor Defensif


Reporter: Ade Priyatin | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah ketidakpastian global yang menekan kinerja industri modal ventura, Asosiasi Modal Ventura Indonesia untuk Startup Indonesia (Amvesindo) menegaskan keberlanjutan menjadi kunci bagi ekosistem pendanaan dan inovasi di Indonesia.

Kepala Bidang Regulasi dan Logistech Amvesindo, Even Alex Chandra mengatakan bahwa dalam situasi ini perusahaan modal ventura kini bergerak meningkatkan selektivitas investasi.

"Bagi perusahaan modal ventura hal ini berarti meningkatkan selektivitas investasi," ujarnya kepada Kontan, Senin (2/3/26).

Perusahaan tidak lagi mengejar pertumbuhan agresif, melainkan fokus pada ketahanan model bisnis, kejelasan jalur menuju profitabilitas, dan disiplin keuangan yang terstruktur.

Dari segi alokasi modal, ia menyebut kalau industri akan cenderung mengarahkannya pada sektor yang relatif defensif dan memiliki kebutuhan struktural jangka panjang, seperti agritech, B2B SaaS, AI.

Baca Juga: OJK Proyeksi Aset Asuransi Bisa Tumbuh 5%-7% pada 2026, Ini Kata AXA Mandiri

Selain itu pengelolaan risiko nilai tukar juga dinilai makin krusial terutama bagi investasi dengan struktur lintas mata uang yang rentan terdampak volatilitas pasar global.

Even menambahkan, bagi perusahaan startup mereka diharapkan melakukan adaptasi sebagai prasyarat utama untuk bisa bertahan dan tetap tumbuh secara berkelanjutan.

"Perusahaan perlu memperpanjang runway melalui pengendalian biaya dan optimalisasi efisiensi operasional," katanya.

Perusahaan startup juga diimbau untuk menguatkan tata kelola perusahaan dan kepatuhan regulasi karena kondisi ketidakpastian global membuat investor lebih sensitif terhadap risiko non keuangan, termasuk aspek hukum, reputasi, dan kepatuhan.

Dari perspektif kebijakan publik, Even menggarisbawahi tiga area krusial untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif.

Pertama, stabilitas makroekonomi dan nilai tukar, mengingat volatilitas berlebihan akan memengaruhi persepsi risiko dan biaya modal.

Kedua, insentif fiskal yang kompetitif, termasuk dukungan terhadap investasi riset dan pengembangan serta kebijakan pajak yang mendorong reinvestasi.

Ketiga, kepastian regulasi dan kemudahan struktur investasi lintas batas.

Adapun mengenai konflik perang Timur Tengah yang sedang terjadi, Even memandang wajar bagi investor untuk berhati-hati. Meski begitu, ia belum melihat adanya reaksi yang signifikan dari para investor.

Selain itu, menurutnya Indonesia masih memiliki basis konsumen domestik yang kuat dan penetrasi digital yang terus berkembang serta masih dalam radar investor regional dan global.

Baca Juga: BTN Targetkan CIR 51%–52% pada 2026 di Tengah Kenaikan Biaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×