kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.524   24,00   0,14%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Anak Usaha Jadi Penopang Laba Bank-Bank Besar di Tengah Tekanan Margin


Senin, 04 Mei 2026 / 18:41 WIB
Anak Usaha Jadi Penopang Laba Bank-Bank Besar di Tengah Tekanan Margin
ILUSTRASI. Pertumbuhan Transaksi Perbankan via Kartu Debit dan Kredit Makin Mengecil (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja anak perusahaan bank kini sudah bukan pelengkap lagi dalam kinerja keuangan bank-bank berkapitalisasi besar. Anak usaha menjadi penyeimbang pendapatan bank di saat gejolak ekonomi sedang tinggi.

Perkembangan anak usaha yang paling terlihat jelas ada di grup PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Pendapatan dari perusahaan anak BRI menjadi salah satu penopang bank pada kuartal I-2026.

Wakil Direktur Utama BRI, Viviana Dyah Ayu menyebut, laba konsolidasi BRI pada kuartal I-2026 sebesar Rp 15,5 triliun atau meningkat 13,7% secara tahunan.

Baca Juga: JConnect Versi Terbaru Resmi Diluncurkan, Sukses Tarik Lebih Dari 27 Ribu Pengunjung

Saat ini BRI memiliki 10 perusahaan anak. Viviana bilang, pendapatan dari 10 anak perusahaan itu menyumbang sampai 24,89% dari total pendapatan BRI atau sebesar Rp 3,86 triliun.

"Ini menunjukkan bahwa diversifikasi bisnis melalui anak usaha semakin memberikan nilai tambah yang signifikan terhadap kinerja konsolidasi perusahaan,” ujarnya dalam paparan kinerja BRI akhir pekan lalu.

Di antara anak usaha BRI pada kuartal I-2026, Pegadaian mencatat lonjakan kinerja paling mencolok dengan laba bersih Rp 8,4 triliun, meningkat drastis 244% secara year on year (yoy). Perusahaan anak lainnya, Permodalan Nasional Madani (PNM) mencatat laba bersih Rp 1,1 triliun, naik 35% yoy.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mencatat perbaikan kinerja anak usaha. Akan tetapi, kontribusi anak usaha pada laba konsolidasi kuartal I-tahun ini tidak sebesar tahun lalu. Pasalnya, Bank Mandiri sudah melepas PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dari jajaran anak usahanya.

Pada kuartal I-2026, total laba bersih Bank Mandiri sebesar Rp 15,4 triliun dengan kontribusi perusahaan anak sebesar Rp 1,03 triliun atau setara 6,7% keseluruhan laba konsolidasi.

Baca Juga: Efisiensi SDM Jadi Jurus Bank Jaga Laba di Tengah Tekanan Kinerja

Kontribusi anak usaha terhadap laba Bank Mandiri terhitung turun jauh jika dibandingkan kuartal I-tahun 2025. Pada periode itu, laba konsolidasi Bank Mandiri sebesar Rp 13,2 triliun dengan 21,86% disumbang dari pendapatan anak usaha.

Sementara di PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), pendapatan perusahaan anak justru turun pada kuartal I-2026. Laba konsolidasi BNI sebesar Rp 5,6 triliun dengan laba anak usaha sebesar Rp 48,9 miliar.

Laba perusahaan anak BNI tersebut terbilang turun jika dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar Rp 56,7 miliar.

Ekonom Center of Reform on Economic (CORE), Yusuf Rendy Manilet menilai, saat ini terdapat pergeseran dari model bisnis bank-bank besar di mana anak usaha punya posisi yang semakin relevan untuk diversifikasi pendapatan.

Menurut Yusuf, bank besar pada tahun-tahun sebelumnya terlalu bergantung pada pendapatan margin bunga. Kondisi ini bisa berbahaya jika margin bunga tiba-tiba menurun. Alhasil, bank besar mulai berlomba membesarkan anak usaha.

"Ketika tekanan terhadap margin meningkat, sumber pendapatan dari multifinance, asuransi, atau pegadaian bisa menjadi penyeimbang karena tidak sepenuhnya bergerak searah dengan suku bunga," ucapnya.

Meski begitu, Yusuf bilang adanya anak usaha juga membawa risiko bagi bank. Bagi bank yang portofolio anak usahanya sudah matang, seperti BRI, kontribusi anak usaha memang jadi penopang pendapatan.

Akan tetapi, bagi bank yang anak usahanya masih tahap berkembang justru bisa menjadi beban jangka pendek sebelum akhirnya berkontribusi positif.

Baca Juga: Pembiayaan Kendaraan Roda Empat Kuasai 68,1% Portofolio BFI Finance (BFIN)

Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga berpendapat senada. Menurutnya, perusahaan anak sudah bukan menjadi pelengkap bisnis induk saja, melainkan  menjadi salah satu mesin pendapatan tambahan.

Josua bilang, perusahaan anak yang punya potensi pertumbuhan tinggi adalah perusahaan di sektor pembiayaan mikro, gadai, asuransi, sekuritas, pembiayaan konsumen, dan bank digital.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×