Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan nasional mengandalkan efisiensi, khususnya dari sisi sumber daya manusia (SDM), untuk menjaga profitabilitas di tengah pertumbuhan kinerja yang terbatas pada awal 2026.
Strategi ini tampak dari laporan keuangan kuartal I-2026 sejumlah bank besar hingga bank kecil.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), misalnya, mencatat beban tenaga kerja turun 16,37% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 6 triliun.
Langkah efisiensi ini menjadi penopang kinerja di tengah tekanan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang turun 1,78% yoy menjadi Rp 25,05 triliun. Hasilnya, laba bersih masih mampu tumbuh 16,57% yoy menjadi Rp 15,38 triliun.
Baca Juga: Catat Kinerja Positif, Krom Bank Raih Laba Bersih Rp 143 Miliar pada Tahun 2025
Strategi serupa juga terlihat di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Beban tenaga kerja bank ini turun 2,99% yoy menjadi Rp 4,73 triliun. Manajemen menyebut efisiensi operasional menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan bisnis.
EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menjelaskan, efisiensi ditempuh melalui optimalisasi layanan digital, termasuk mobile banking dan internet banking, yang mendorong pergeseran transaksi ke kanal non-tunai.
Dampaknya, rasio beban terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) BCA membaik menjadi 27,32% dari 28,46% pada periode yang sama tahun lalu. "CIR jadi lebih efisien," ujarnya.
Ke depan, BCA akan terus memperkuat ekosistem finansial serta memodernisasi infrastruktur teknologi informasi guna menjaga efisiensi sekaligus meningkatkan kualitas layanan nasabah.
Baca Juga: Permata Bank Cetak Laba Rp 697 Miliar per Februari 2026
Namun, tidak semua bank menekan biaya SDM secara agresif. PT CIMB Niaga Tbk (BNGA) justru masih mencatat kenaikan beban tenaga kerja sebesar 3,23% yoy menjadi Rp 1,37 triliun, meski tetap terkendali.
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menegaskan, human capital tetap menjadi faktor krusial di tengah derasnya arus digitalisasi dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
"Banyak pekerjaan di bank yang tetap bergantung pada keputusan dan layanan personalisasi dari manusia," katanya.
CIMB Niaga pun tidak menjalankan program rasionalisasi SDM. Sebaliknya, bank fokus meningkatkan kompetensi karyawan agar lebih adaptif dan fleksibel.
Baca Juga: Nobu Bank Raup Laba Rp Rp481,3 miliar pada Tahun 2025
Investasi pada teknologi dan digitalisasi yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir mulai membuahkan hasil, tercermin dari efisiensi biaya transaksi dan CIR yang terjaga di level 46%, lebih baik dibandingkan kelompok bank sekelasnya (KBMI 3).
Sementara itu, dari kelompok bank kecil, OK Bank juga mengedepankan pendekatan serupa.
Sekretaris Perusahaan sekaligus Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah menyebut, efisiensi dilakukan melalui digitalisasi, simplifikasi organisasi, dan penyesuaian kompetensi SDM.
Meski beban tenaga kerja masih naik 3,12% yoy menjadi Rp 41,86 miliar, struktur biaya yang lebih efisien berhasil menekan CIR secara signifikan menjadi 37,74% dari sebelumnya 51,66%.
Dampaknya, laba bersih melonjak menjadi Rp 64,67 miliar dari Rp 30,43 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Amar Bank Catat Laba Bersih Rp 249,6 Miliar dan Kredit Tumbuh 35,7% Pada 2025
Efdinal menegaskan, ke depan pertumbuhan laba tidak hanya bertumpu pada efisiensi biaya SDM.
“Pertumbuhan laba akan lebih didorong oleh peningkatan produktivitas, ekspansi kredit berkualitas, dan penguatan fee-based income,” ujarnya.
Secara umum, tren ini menunjukkan pergeseran strategi perbankan: efisiensi tidak lagi sekadar memangkas biaya tenaga kerja, tetapi juga mengoptimalkan produktivitas melalui digitalisasi dan transformasi model bisnis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













