Reporter: Aura Putri | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas saham perbankan berkapitalisasi besar mencatatkan pergerakan variatif pada penutupan perdagangan Selasa, (13/10/2026).
Koreksi terjadi pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) stabil, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) bergerak menguat.
Pergerakan itu berlangsung dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih terkoreksi 0,17% ke level 5.925.
Mengutip data Stockbit, meski sempat melemah pada sesi I, saham BBCA stabil di harga Rp 5.950 per saham pada penutupan sesi perdagangan hari ini.
Baca Juga: IHSG Turun 5 Hari Berturut-turut, Asing Mulai Koleksi Saham Big Banks, Senin (18/5)
Pelemahan terjadi pada saham BBRI yang masih terkoreksi 0,96% ke level Rp 3.080 per saham. Sementara itu, saham BMRI juga masih melemah 0,50% ke harga Rp 3.990 per saham.
Saham BBNI berhasil tampil apik hari ini, masih menguat 0,59% ke level Rp 3.400 per saham pada penutupan perdagangan hari ini.
Aksi Net Foreign Sell terhadap saham big banks juga masih berlanjut. BMRI mencatatkan nilai net foreign sell terbesar, yakni mencapai Rp 120,07 miliar.
BBRI menyusul di peringkat ketiga dengan nilai jual bersih investor asing sebesar Rp 65,31 miliar. Adapun BBNI di urutan ketujuh, mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 14,36 miliar.
Sementara itu pada Net Foreign Buy, BBCA justru nangkring di posisi keempat dengan mencatatkan nilai beli bersih asing sebesar Rp 30,11 miliar.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, aksi melepas saham-saham big banks terutama didorong langkah rebalancing portofolio dan profit taking setelah periode akumulasi sebelumnya.
"Seiring tingginya ketidakpastian suku bunga global dan pergerakan imbal hasil obligasi AS (US Treasury) yang mendorong aliran modal keluar sementara dari pasar berkembang," ujar Nafan kepada Kontan, Selasa (13/10/2026).
Baca Juga: IHSG Turun 1,20% Kamis (24/9), Investor Asing Masih Lepas Saham Big Banks
Dalam kondisi ini, Nafan menilai tekanan arus keluar modal asing tersebut justru menciptakan peluang strategis bagi investor domestik untuk mencermati titik support teknikal dan melakukan akumulasi bertahap (buy on weakness). Sebab, fundamental industri perbankan nasional tetap kokoh secara jangka panjang.
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai, tekanan jual asing pada saham big banks masih akan berlanjut.
"Namun, kami belum melihat kondisi ini sebagai tanda foreign flow sudah benar-benar berbalik. Jadi untuk pekan ini peluang technical rebound masih terbuka, tetapi kemungkinan pergerakannya tetap volatif," ujar Ekky kepada Kontan, Selasa (13/10/2026).
Sentimen pekan ini masih berasal dari pergerakan rupiah, yield US Treasury, arah suku bunga global, serta kondisi geopolitik yang mempengaruhi minat investor terhadap emerging market.
Dari domestik, sentimen utama pekan ini yaitu rilis kinerja perbankan kuartal III, terutama pertumbuhan kredit, NIM, CoF, dan kualitas aset.
Khusus saham BMRI, isu gadai saham JARR dan PGUN ke Bank Mandiri sentimennya cenderung negatif dalam jangka pendek. Namun, belum tentu berdampak signifikan terhadap fundamental BMRI.
Baca Juga: Saham Big Banks di Bawah Tekanan Gejolak Pasar, Begini Saran Analis
"Untuk pergerakan sahamnya, kami melihat isu ini dapat menjadi tambahan tekanan sentimen dalam jangka pendek, tetapi arah BMRI secara keseluruhan kemungkinan masih lebih banyak ditentukan oleh foreign flow dan kondisi pasar," jelasnya.
Secara fundamental BMRI masih cukup solid, dengan pertumbuhan kredit hingga Agustus sebesar 17,6% yoy dan NPL masih terjaga di 1%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














