kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Saham Big Banks Mulai Bangkit, Sinyal Penguatan Jangka Panjang Masih Dinanti


Minggu, 14 Juni 2026 / 18:51 WIB
Saham Big Banks Mulai Bangkit, Sinyal Penguatan Jangka Panjang Masih Dinanti
ILUSTRASI. Nasabah melakukan mengambil uang di ATM BCA (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Setelah terseok-seok dalam beberapa waktu terakhir, saham bank-bank berkapitalisasi pasar jumbo berhasil kembali ke zona hijau. Namun begitu, sektor ini sejatinya belum punya katalis kuat guna menjaga tren positif ini untuk jangka panjang.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil menutup perdagangan pekan lalu di harga Rp 5.925, menguat 16,75% dalam sepekan. Menyusul, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 10,9% menjadi Rp 3.560. 

Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menguat 9,38% menjadi Rp 4.200 dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 4,01% menjadi Rp 2.850. Kinerja ini sejalan dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 7,38% ke posisi 6.007,65. 

Namun begitu, rupanya penguatan saham big banks lebih ditopang oleh investor domestik. Pasalnya pada hari terakhir perdagangan pekan lalu cuman BBCA yang berhasil mencatatkan net buy asing, yakni sebesar Rp 192,85 miliar. 

Di sisi lain, BBNI masih net sell asing sebesar Rp 38,78 miliar, BMRI sebanyak Rp 168,1 miliar, dan BBRI hingga Rp 371,65 miliar.

Baca Juga: Likuiditas Bank Dinilai Sehat, Ini Rekomendasi Saham Big Banks

Kendati begitu, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria bilang pada dasarnya tren positif di pasar saham domestik ini menjadi cerminan keyakinan investor terhadap kuatnya fundamental ekonomi serta kinerja industri nasional. 

“Investor semakin melihat potensi jangka panjang Indonesia berdasarkan kondisi fundamental yang solid,” ujar Dony, Minggu (14/6/2026). 

Sejatinya penguatan pasar kemarin terjadi beriringan dengan beredarnya sentimen pembelian kembali (buyback) saham-saham BUMN oleh Danantara. Soal itu, Dony bilang pada dasarnya aksi buyback merupakan mekanisme yang wajar dilakukan ketika harga saham belum mencerminkan fundamental sebenarnya. 

Namun, Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya melihat kenaikan harga saham big banks kali ini tak semata-mata disebabkan isu buyback Danantara. 

Menurutnya faktor yang lebih dominan adalah valuasi saham big banks, yang sudah sangat murah dan memicu bargain hunting oleh investor, serta meredanya tekanan makro setelah bank sentral mengambil langkah agresif untuk menjaga stabilitas rupiah.

Lagipula, dari sisi fundamental, kinerja perbankan juga masih relatif solid dengan laju pertumbuhan kredit dan laba yang tetap tumbuh positif. Meskipun, laba bank sejatinya juga menghadapi tekanan margin akibat kenaikan suku bunga. 

Andrey bilang dampak aksi buyback dan pembagian dividen yang sudah mulai dieksekusi big banks juga tak cukup menjadi sentimen yang mendorong harga naik lebih masif secara jangka panjang. 

“Efeknya umumnya bersifat jangka pendek hingga menengah. Untuk menciptakan tren kenaikan yang lebih berkelanjutan, pasar tetap membutuhkan perbaikan sentimen makro, stabilisasi rupiah, dan kembalinya arus dana asing ke pasar saham Indonesia,” papar Andrey. 

Baca Juga: Saham Big Banks Kompak Naik Sepekan, Tapi Asing Masih Aktif Lepas Saham

Senada, Founder Republik Investor, Hendra Wardana bilang arus dana asing memainkan peran penting karena sejatinya sektor perbankan merupakan tujuan utama investor asing. Masalahnya, saat ini asing nampaknya masih bersikap selektif. 

Itu terlihat juga dari catatan net sell di sebagian besar big banks. Dari situ terlihat, asing belum kembali ke sektor perbankan secara menyeluruh, melainkan masih memilih emiten dengan profil risiko yang dianggap paling defensif. 

Ke depan, Hendra bilang peluang kenaikan saham perbankan masih terbuka apabila kondisi pasar global lebih kondusif, nilai tukar rupiah stabil, dan tak ada pelemahan ekonomi domestik yang signifikan. 

Jika asing mulai berbalik melakukan net buy secara konsisten pada saham-saham perbankan tersebut, maka sektor perbankan berpotensi menjadi motor utama pemulihan IHSG pada semester kedua tahun 2026.

Namun, ia mengingatkan agar investor tetap memperhatikan risiko perlambatan kredit, potensi kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL), serta tekanan daya beli masyarakat yang masih menjadi tantangan bagi industri perbankan. 

“Oleh karena itu, kenaikan saham bank dalam jangka pendek kemungkinan masih akan berlangsung secara selektif dan belum merata,” sebut Hendra.

Hendra menilai BBCA menjadi pilihan paling menarik karena sudah menunjukkan sinyal masuknya dana asing, ia merekomendasikan trading buy dengan target harga Rp 6.425. BBNI juga dapat rekomendasi trading buy, target harganya Rp 3.890 

Sementara itu, saham pilihan Andrey masih jatuh kepada BMRI dan BBRI. Menurutnya dua saham ini menawarkan kombinasi valuasi menarik, likuiditas tinggi, dan potensi pemulihan ketika sentimen makro membaik.

Baca Juga: Saham Big Banks Tertekan Sentimen Makro

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×