Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan sentimen MSCI yang menerpa pasar modal Indonesia turut menekan harga PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), dua emiten yang sahamnya dijadikan Jhonlin Group sebagai agunan kredit dari Bank Mandiri.
Di akhir perdagangan Senin (19/10/2026), harga PGUN berhasil menguat 7,66% dalam sehari menjadi Rp 7.375 dan JARR naik 1,32% ke level Rp 2.300. Kendati begitu, posisi harga keduanya mencerminkan pelemahan masing-masing mencapai 22,57% dan 36,11% dalam sebulan terakhir.
Ini menjadi perhatian sebab awal bulan ini keduanya dilaporkan telah menjadi agunan untuk kredit yang disalurkan Bank Mandiri. Penurunan nilai saham PGUN dan JARR otomatis berpengaruh terhadap nilai jaminan kredit macet Jhonlin Group.
Baca Juga: Danamon Sewakan Tanah dan Bangunan ke Adira Finance Rp 617,76 Juta
Sesungguhnya Bank Mandiri telah memastikan saham PGUN dan JARR bukan satu-satunya jaminan atas fasilitas kredit yang diberikan kepada Jhonlin Group. Ada aset tetap dan non tetap serta rekening perusahaan yang juga dijadikan jaminan.
Kendati begitu, dalam pandangan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman, pada dasarnya Bank Mandiri perlu meminta tambahan agunan jika penilaian ulang menunjukkan nilai jaminan tak lagi memenuhi cakupan yang diperjanjikan.
“Penurunan saham PGUN dan JARR harus menjadi dasar evaluasi menyeluruh, termasuk terhadap aset lain yang dijaminkan. Keberadaan banyak agunan belum menjamin keamanan kredit apabila nilainya sulit direalisasikan saat dibutuhkan,” jelas Rizal kepada Kontan, Senin (19/10/2026).
Pun secara umum Rizal bilang sumber utama pembayaran tetap arus kas debitur. Tambahan agunan tak menyelesaikan pelemahan kemampuan membayar bunga dan pokok.
Dalam kondisi ini, ia menilai Bank Mandiri harus menguji ketahanan usaha, konsentrasi kredit grup, serta kecukupan pencadangan. “Ukuran kehati-hatian adalah kemampuan bayar dan nilai pemulihan yang realistis, bukan besarnya jaminan di atas kertas,” tegasnya.
SVP Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan juga memandang penurunan harga PGUN dan JARR perlu menjadi perhatian serius. Sebab, risiko utamanya bukan cuman penurunan nilai pasar, tetapi juga keterbatasan likuiditas kedua saham apabila harus dieksekusi dalam jumlah besar.
Dalam kalkulasi Trioksa, nilai pasar saham yang dijaminkan sempat mencapai sekitar Rp 73 triliun, dengan rasio pinjaman terhadap nilai agunan (loan-to-value/LTV) sekitar 36% apabila diasumsikan kredit sebesar Rp 26,1 triliun.
Namun, angka tersebut bukan nilai kredit aktual yang telah dikonfirmasi dan tingkat perlindungannya dapat berkurang signifikan ketika harga saham melemah.
Makanya, Bank Mandiri perlu melakukan penilaian ulang secara berkala terhadap seluruh agunan, menerapkan haircut yang konservatif, serta melakukan stress testing terhadap kemungkinan penurunan harga saham lebih lanjut.
Trioksa menekankan apabila hasil evaluasi menunjukkan nilai agunan setelah penyesuaian risiko tak lagi mencukupi atau melanggar batas LTV yang diperjanjikan, bank perlu meminta tambahan agunan yang lebih likuid dan stabil, atau mempertimbangkan pengurangan eksposur kredit.
Namun begitu, penurunan harga saham tak otomatis berarti kualitas kredit memburuk karena kemampuan debitur menghasilkan arus kas untuk membayar kewajiban tetap menjadi pertimbangan utama.
Hanya saja, mengingat besarnya saham pengendali yang telah dijaminkan, mitigasi risiko juga tak cukup cuman mengandalkan tambahan saham dari emiten yang sama. Trioksa memandang bank perlu memastikan kualitas agunan alternatif, kecukupan arus kas, dan kepatuhan terhadap perjanjian kredit.
“Prinsipnya, nilai agunan yang besar di atas kertas belum tentu memberikan perlindungan yang memadai apabila aset tersebut sulit dicairkan saat terjadi tekanan pasar,” tukas Trioksa.
Baca Juga: Sucor AM Hadirkan Reksa Dana di BCA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














