Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat (Bank Nagari) telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 1,18 triliun hingga September 2026. Realisasi tersebut mencapai 78,76% dari total pagu KUR tahun ini sebesar Rp 1,5 triliun.
Direktur Utama Bank Nagari Gusti Candra mengatakan, penyaluran KUR tersebut telah menjangkau 5.545 debitur. Dengan demikian, masih terdapat sisa pagu sekitar Rp 318,67 miliar yang perlu dioptimalkan hingga akhir tahun.
Berdasarkan sektor usaha, pertanian, perburuan, dan kehutanan menjadi kontributor terbesar penyaluran KUR Bank Nagari, dengan nilai Rp 604,35 miliar hingga September 2026. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan sebesar Rp 391,13 miliar dan jasa-jasa sebesar Rp 80,76 miliar.
Meski penyaluran terus berjalan, Bank Nagari tetap mencermati kualitas kredit. Perseroan menyebut rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) KUR meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi masih berada di bawah ambang batas 5%.
"Sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan menjadi penyumbang NPL terbesar. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Bank Nagari melakukan pemetaan debitur bermasalah, meningkatkan penagihan dan kunjungan lapangan, serta mengoptimalkan peran petugas credit recovery dan klaim penjaminan," jelasnya kepada Kontan.co.id, Selasa (14/10/2026).
Baca Juga: Bank Nagari Kantongi Laba Rp318,3 Miliar hingga Agustus 2026
Perseroan juga melakukan restrukturisasi bagi debitur yang masih memiliki prospek usaha, sekaligus memperkuat prinsip kehati-hatian serta pemantauan dan evaluasi secara berkala.
Memasuki kuartal IV-2026, Bank Nagari optimistis dapat merealisasikan seluruh pagu KUR sebesar Rp 1,5 triliun. Upaya yang disiapkan meliputi penguatan sinergi dengan instansi terkait, peningkatan akuisisi debitur potensial, dan percepatan proses penyaluran dengan tetap menjaga kualitas kredit.
Di sisi lain, bencana alam dan perubahan iklim menjadi tantangan bagi penyaluran KUR karena dapat mengganggu keberlangsungan usaha UMKM, terutama di sektor pertanian dan perdagangan. Kondisi tersebut berpotensi menekan omzet usaha dan kemampuan debitur dalam memenuhi kewajiban kredit.
Bank Nagari menyebut kebijakan relaksasi pemerintah bagi debitur terdampak bencana telah membantu proses pemulihan usaha. Dengan membaiknya kondisi usaha, perseroan berharap kemampuan bayar debitur dan penyerapan KUR dapat meningkat hingga akhir tahun.
Baca Juga: Bidik Sektor Produktif, Bank Nagari Tetap Ekspansif di Kuartal IV 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














