kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   6.000   0,23%
  • USD/IDR 17.940   27,00   0,15%
  • IDX 6.061   23,85   0,40%
  • KOMPAS100 782   4,58   0,59%
  • LQ45 599   3,42   0,57%
  • ISSI 210   0,47   0,22%
  • IDX30 333   2,71   0,82%
  • IDXHIDIV20 426   2,73   0,64%
  • IDX80 89   0,49   0,55%
  • IDXV30 115   0,63   0,55%
  • IDXQ30 109   0,70   0,65%

Bidik Sektor Produktif, Bank Nagari Tetap Ekspansif di Kuartal IV 2026


Senin, 05 Oktober 2026 / 13:17 WIB
Bidik Sektor Produktif, Bank Nagari Tetap Ekspansif di Kuartal IV 2026
ILUSTRASI. BPD Bank Nagari Daerah Padang (NULL/NULL)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Nagari tetap akan melanjutkan ekspansi bisnis pada kuartal IV 2026 di tengah dinamika ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Namun, bank pembangunan daerah (BPD) Sumatra Barat ini akan menjalankan ekspansi secara selektif dengan mengedepankan kualitas aset dan prinsip kehati-hatian.

Direktur Utama Bank Nagari Gusti Candra mengatakan, kondisi makroekonomi Indonesia pada kuartal IV 2026 masih relatif terjaga. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap positif, ditopang konsumsi domestik, belanja pemerintah, investasi, serta ekspor komoditas.

Baca Juga: Waspadai Ekonomi Global, Bank Muamalat Tetap Ekspansi Secara Selektif di Kuartal IV

Meski demikian, pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan biaya impor, tekanan inflasi, hingga biaya dana apabila berlangsung berkepanjangan.

“Harapan kami, dampaknya terhadap perekonomian nasional dan industri perbankan masih dapat dikelola sepanjang pelemahan Rupiah tidak berlangsung secara ekstrem dan stakeholders menjaga fundamental ekonomi tetap kuat,” ujar Gusti kepada Kontan beberapa waktu lalu.

Bagi Bank Nagari, kondisi tersebut akan direspons dengan menjaga kualitas aset, likuiditas, kecukupan modal, serta melakukan ekspansi secara selektif pada sektor-sektor produktif.

Gusti juga melihat percepatan realisasi belanja pemerintah pada semester II 2026 dapat menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, realisasi anggaran perlu dilakukan secara tepat sasaran dan memberikan multiplier effect terhadap sektor riil. Penempatan dana pemerintah di perbankan juga dinilai dapat memperkuat likuiditas sekaligus meningkatkan kemampuan intermediasi bank.

Namun, bank penerima dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) perlu tetap memperkuat penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) ritel, khususnya giro dan tabungan.

Dengan demikian, ketika dana SAL kembali ditarik pemerintah, bank sudah memiliki basis DPK yang lebih kuat sehingga tidak mengalami tekanan signifikan terhadap likuiditas maupun rasio-rasio yang wajib dijaga sesuai ketentuan regulator.

“Penempatan dana pemerintah pada perbankan dapat memperkuat likuiditas dan meningkatkan kemampuan intermediasi perbankan, dengan tidak mengesampingkan bagaimana perbankan penerima dana SAL terus meningkatkan daya saingnya untuk meningkatkan penghimpunan DPK retail, terutama giro dan tabungan,” jelas Gusti.

Baca Juga: Danantara Targetkan Konsolidasi Perusahaan Asuransi BUMN Rampung di Akhir 2026

Selain penempatan dana pemerintah, program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kopdes Merah Putih dinilai berpotensi mendorong konsumsi, UMKM, produksi pangan, serta aktivitas ekonomi daerah.

Menurut Gusti, evaluasi maupun penyesuaian anggaran MBG perlu dilihat sebagai bagian dari upaya meningkatkan efektivitas dan efisiensi fiskal, bukan semata-mata sebagai sinyal pelemahan ekonomi.

“Yang paling penting adalah memastikan belanja pemerintah memberikan dampak ekonomi yang nyata dan berkelanjutan,” katanya.

Bank Nagari juga melihat daya beli masyarakat berpotensi membaik secara bertahap. Peningkatan belanja pemerintah dan ekspansi bisnis swasta pada semester II 2026 diharapkan mendorong aktivitas ekonomi dan memperbaiki pendapatan masyarakat.

Namun, pemulihan daya beli diperkirakan belum berlangsung merata. Masyarakat masih sensitif terhadap harga kebutuhan pokok, biaya hidup, dan tingkat suku bunga.

Karena itu, menurut Gusti, pemulihan konsumsi perlu ditopang stabilitas harga, penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan riil, serta kebijakan yang menjaga kepercayaan konsumen.

Di sisi lain, ketidakpastian ekonomi global masih menjadi risiko. Konflik geopolitik, perang dagang AS-China, kebijakan tarif, volatilitas nilai tukar dan harga komoditas, serta arah suku bunga bank sentral global masih berpotensi memengaruhi perdagangan dan investasi.

Meski demikian, Indonesia memiliki modal berupa pasar domestik yang besar dan basis komoditas yang relatif kuat. Jika inflasi global semakin terkendali dan siklus suku bunga global menjadi lebih akomodatif, kondisi tersebut dapat membuka ruang bagi ekspansi usaha dan investasi.

Baca Juga: Indonesia Re Dorong Penguatan Portofolio Reasuransi Jiwa

“Dengan demikian, kondisi global kami nilai mixed: belum sepenuhnya mendukung akselerasi bisnis, tetapi juga belum sampai menghambat prospek ekonomi Indonesia secara signifikan,” ujar Gusti.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Bank Nagari tetap akan melakukan ekspansi pada kuartal IV 2026. Namun, strategi pertumbuhan akan mengedepankan kualitas dibandingkan sekadar mengejar pertumbuhan kredit.

Bank Nagari membidik sejumlah sektor, antara lain sektor produktif, UMKM, perdagangan, pertanian, industri kecil, akomodasi dan makan minum, pariwisata, sektor unggulan daerah, ekosistem ekonomi dan keuangan syariah, serta pembiayaan yang berkaitan dengan program pemerintah.

“Ekspansi tidak semata-mata mengejar pertumbuhan kredit, tetapi harus diikuti dengan penguatan kualitas aset, CASA, fee based income, efisiensi, digitalisasi, dan pengelolaan risiko,” kata Gusti.

Dengan strategi tersebut, Bank Nagari mengusung prinsip growth with quality, yakni tetap mendorong pertumbuhan bisnis tanpa mengorbankan kualitas kredit, likuiditas, profitabilitas, dan ketahanan permodalan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×