kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 16.910   28,00   0,17%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Bank Victoria akan jadi bank devisa di semester II


Rabu, 04 Februari 2015 / 16:15 WIB
Bank Victoria akan jadi bank devisa di semester II
ILUSTRASI. SIM Keliling Bekasi Hari Ini 19/8/2023, Perpanjang SIM Hari Sabtu Tak Antre Lama


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Kelompok bank kecil mulai berminat pada layanan valuta asing (valas). Kali ini, PT Bank Victoria Internasional Tbk (BVIC) yang akan menjadi bank devisa untuk memenuhi permintaan layanan ekspor dan impor dari debitur.

Eko Rachmansyah Gindo, Direktur Utama Bank Victoria menargetkan, akan menjadi bank devisa pada kuartal III atau kuartal IV di tahun 2015 ini.

"Kami akan menyampaikan proposal izin menjadi bank devisa sekitar 3 bulan atau 6 bulan ke depan kepada Otoritas Jasa keuangan (OJK)," kata, Eko, Rabu (4/2).

Menurutnya, niatan menjadi bank devisa ini sudah ada sejak dua tahun lalu. Itu dikarenakan banyak debitur kredit komersial meminta layanan valas. Kemudian, pada tahun lalu, secara informal OJK mendukung Bank Victoria menjadi bank devisa.

Eko melanjutkan, sebagai keseriusan perusahaan menjadi bank devisa, Victoria menggandeng Bank Negara Indonesia (BNI) untuk menjadi pembimbing. Peran BNI akan memberikan pendampingan kepada Bank Victoria tentang transaksi kiriman uang (remittance), perdagangan internasional (trade finance), treasury dan transaksi interbank lainnya. 

Selanjutnya, tahap awal, bank milik Victoria Investama ini melayani trade finance untuk ekspor impor. Jadi, perusahaan akan memproses transaksi penerimaan dalam valas seperti dollar.

Sedangkan, untuk kredit valas perusahaan belum dapat memberikan pelayanan ini, karena mayoritas debitur masih menghasilkan pendapatan rupiah. "Market komersial banking ini kapasitasnya besar, banyak yang melakukan ekspor," tambahnya.

Sasaran debitur untuk transaksi ekspor impor ini adalah debitur pada sektor perkebunan, kelapa sawit, dan pertambangan. Harapannya, bank akan diuntungkan dari sisi pendapatan komisi atau fee based income dari layanan trade finance, serta perluasan layanan untuk kebutuhan nasabah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×