kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   11.000   0,41%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Bankir waspadai risiko kredit valas tahun depan


Jumat, 23 Desember 2016 / 09:48 WIB


Reporter: Galvan Yudistira | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Perbankan pada tahun depan masih dihadapkan pada risiko kredit bermasalah terutama berdenominasi valuta asing. Hal ini disebabkan karena faktor naiknya suku bunga acuan Amerika Serikat (The Fed) tahun depan.

Beberapa analis memprediksi tahun depan akan ada potensi tiga kali kenaikan suku bunga acuan The Fed. Hal ini diprediksi membuat dana asing akan semakin banyak keluar dan membuat mata uang rupiah mengalami pelemahan.

Beberapa bank sudah mengantisipasi risiko rasio kredit macet (NPL) valas tahun depan dengan memilih betul debitur yang akan disasar. Bank memastikan kredit valas diberikan kepada debitur, mempunyai pendapatan dalam mata uang valas juga.

PT Bank Mandiri Tbk misalnya. Sampai kuartal 3 2016 mencatat kredit valas menyumbang sebesar 13,9% dari total kredit bank berkode BMRI ini.

Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Risk Manajemen Bank Mandiri mengatakan sampai kuartal 3 2016, kredit valas bank turun 100bps secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 77,72 triliun.

“Sedangkan NPL kredit valas kami pada kuartal 3 2016 sebesar 3,6% atau naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar 3%,” ujar Siddik kepada KONTAN, Kamis (23/12).

Ke depannya Bank Mandiri akan berusaha menurunkan NPL kredit valas dengan melakukan beberapa langkah pencegahan. Siddik mengaku debitur yang menyumbang NPL valas terbesar adalah dari industri tekstil yaitu Apac Inti Corpora sebesar Rp 972,8 miliar.

PT Bank Permata Tbk mengatakan untuk menjaga NPL valas, bank hanya memberikan kredit valas kepada debitur yang memiliki pendapatan dalam mata uang yang sama.

Anita Siswadi, Direktur Wholesale Bank Permata mengatakan kredit valas juga diberikan pada importir dengan catatan mempunyai mekanisme hedging tertentu yang dipersyaratkan oleh bank.

“Sebagian besar NPL valas kami disumbangkan oleh debitur dari industri batubara,” ujar Anita kepada KONTAN, Kamis (23/12).

Sebagai gambaran, sampai kuartal 3 2016, NPL valas Bank Permata sebesar 4,3% atau naik 29,73 bps secara tahunan atau year on year (yoy).




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×