Reporter: Ade Priyatin | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (Batavia) berhasil menorehkan kinerja yang positif. Ini tecermin dari data kinerja perusahaan hingga akhir September 2026 yang telah mencatatkan total dana kelolaan atau Asset Under management (AUM) sebesar Rp 56,42 triliun atau tumbuh 14,3% dibandingkan pada akhir 2025 yang sebesar Rp 49,37 triliun.
Direktur Batavia Lilis Setiadi mengatakan pertumbuhan ini ditopang oleh kinerja AUM reksa dana yang mencatat pertumbuhan sebesar 23,9% menjadi Rp 47,43 triliun pada September 2026.
"Ini juga mengalami peningkatan dibandingkan tutup tahun Desember 2025, kami berada di angka Rp 38,3 triliun,” ujarnya dalam acara Media Gathering Batavia, Rabu (21/10/26).
Jika dibandingkan dengan AUM reksa dana industri yang pada periode September 2026 tercatat sebesar Rp 641,10 triliun, maka pangsa pasar reksa dana Batavia berada di posisi 7,4%.
Baca Juga: OJK Dorong Peningkatan Pemanfaatan Jasa Aktuaria bagi Industri Penjaminan
Selain itu, kenaikan AUM reksa dana yang perusahaan raih ini juga terjadi di tengah penurunan kinerja AUM reksa dana industri.
Jika dilihat secara rinci, per September 2026 AUM reksa dana industri tercatat turun sebesar 5,6% dari posisi Desember 2025 yang sebesar Rp 679,24 triliun.
Sementara itu, berdasarkan komposisi dana kelolaan berdasarkan tipe produk, dana kelolaan perusahaan pada reksa dana pasar uang mencatatkan bobot tertinggi dengan porsi mencapai 26,9% dengan nilai Rp 15,18 triliun.
Produk dengan porsi terbanyak selanjutnya adalah reksa dana terproteksi dengan bobot terhadap dana kelolaan adalah sebesar 21,8% dan nilai mencapai Rp 12,27 triliun. Sementara itu, posisi ketiga adalah kontrak pengelolaan dana nasabah dengan nilai Rp 8,1 triliun dan bobot terhadap dana kelolaan sebesar 14,5%.
Ada pun komposisi berdasarkan nasabah masih didominasi oleh nasabah institusi dengan porsi sebesar 59,4%, sedangkan nasabah retail via Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan porsi sebesar 40,6%.
Lalu berdasarkan kelas asetnya, instrumen saham masih mendominasi dengan porsi sebesar 36,8% diikuti oleh instrumen pendapatan tetap sebesar 34,4% dan instrumen pasar uang dengan porsi sebesar 28,8%.
Sementara itu jika dilihat berdasarkan prinsipnya, komposisi dana kelolaan masih didominasi segmen konvensional dengan porsi sebesar 88,7%, sedangkan segmen syariah sebesar 11,3%.
Baca Juga: OJK: Perluasan Investasi Dapen ke Luar Negeri Tak Didasarkan pada Return Dalam Negeri
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














