kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.564.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.002   -55,00   -0,30%
  • IDX 5.279   282,28   5,65%
  • KOMPAS100 680   48,89   7,75%
  • LQ45 530   41,89   8,58%
  • ISSI 180   7,15   4,15%
  • IDX30 298   24,37   8,92%
  • IDXHIDIV20 389   32,13   9,00%
  • IDX80 78   5,77   7,97%
  • IDXV30 108   7,16   7,11%
  • IDXQ30 98   8,45   9,41%

BBCA dan BBTN Kompak Menguat, Bagaimana Perkembangan Rencana Buyback?


Selasa, 20 Oktober 2026 / 19:18 WIB
BBCA dan BBTN Kompak Menguat, Bagaimana Perkembangan Rencana Buyback?
ILUSTRASI. Saham BBCA dan BBTN menguat di tengah volatilitas IHSG. Simak perkembangan realisasi dan rencana buyback kedua bank tersebut. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rencana pembelian kembali saham atau buyback menjadi salah satu aksi korporasi yang disorot di tengah gejolak pasar modal Indonesia setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Sejumlah emiten perbankan mulai mengungkapkan langkah yang ditempuh untuk menyikapi kondisi pasar, termasuk PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).

Pada Jumat (16/10/2026), penyedia indeks global MSCI mengumumkan tengah mempertimbangkan penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari negara berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).

Pengumuman tersebut memicu tekanan jual di pasar saham domestik. Pada hari yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 5.185,10, setelah terkoreksi 14,91% dalam sepekan.

Baca Juga: Direktur Krom Bank Laniwati Tjandra Mengundurkan Diri

Tekanan berlanjut pada Senin (19/10/2026), ketika IHSG kembali melemah 3,64% dalam sehari ke level 4.996,6. Namun, pada perdagangan Selasa (20/10/2026), IHSG berhasil bangkit dengan menguat 5,65% menjadi 5.278,89 pada penutupan perdagangan.

Di tengah volatilitas tersebut, dua emiten perbankan mengungkapkan perkembangan terkait rencana buyback saham, yakni BBCA dan BBTN.

Pada Senin (19/10/2026), BBCA mengumumkan pelaksanaan buyback saham tahap ketiga sepanjang 2026. Aksi korporasi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 19–21 Oktober 2026.

Sebelumnya, dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk Tahun Buku 2025 yang digelar pada Maret 2026, BBCA telah mengalokasikan dana maksimal Rp 5 triliun untuk pelaksanaan buyback dalam periode satu tahun.

BBCA juga telah merealisasikan aksi pembelian kembali saham pada April dan Juni 2026. Namun, hingga kini manajemen belum mengungkapkan nilai realisasi buyback dari kedua tahap tersebut.

Baca Juga: BNI Buka Peluang Perpanjang Buyback Saham yang Berakhir 26 Oktober 2026

Pada perdagangan Senin (19/10/2026), saham BBCA masih mengalami tekanan dan ditutup melemah 6,86% menjadi Rp 4.820 per saham. Penurunan tersebut membuat saham BBCA menyentuh batas auto reject bawah (ARB) sebesar 7% sesuai ketentuan terbaru Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sehari berselang, saham BBCA berbalik menguat 7,88% menjadi Rp 5.200 per saham pada penutupan perdagangan Selasa (20/10/2026).

Sementara itu, emiten perbankan lainnya, BBTN, tengah mengkaji opsi buyback sebagai salah satu alternatif aksi korporasi. Bank pelat merah tersebut mempertimbangkan kondisi pasar serta kebutuhan strategis perusahaan sebelum mengambil keputusan.

Direktur Utama BBTN Nixon Napitupulu mengatakan, kajian tersebut mencakup sejumlah aspek, mulai dari kondisi keuangan, kecukupan permodalan, kebutuhan pendanaan untuk ekspansi bisnis, hingga ketentuan regulator yang berlaku.

"Buyback merupakan salah satu opsi yang sedang kami kaji, termasuk terkait dengan potensi pemanfaatan saham hasil pembelian kembali untuk peruntukan tertentu sesuai dengan kebutuhan Perseroan," kata Nixon, Selasa (20/10/2026).

Pada penutupan perdagangan Selasa (20/10/2026), saham BBTN turut menguat 5,88% menjadi Rp 900 per saham.

Meski saham BBCA dan BBTN sama-sama mencatatkan penguatan, pergerakan harga tersebut tidak serta-merta dapat dikaitkan dengan pengumuman buyback masing-masing emiten.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta sebelumnya menjelaskan bahwa koreksi tajam yang terjadi selama beberapa hari terakhir telah membawa indikator teknikal pasar ke area oversold ekstrem.

“Itu membuka peluang terjadinya pemulihan teknikal,” sebut Nafan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×