Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperbarui kebijakan moneter dan makroprudensial sebagai upaya menjaga likuiditas pasar.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2026, BI memutuskan untuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan secara bertahap.
Untuk Bank Umum Konvensional (BUK), GWM diturunkan dari 9% menjadi 8% mulai 1 November 2026, lalu diturunkan lagi menjadi 7% mulai 1 Desember 2026.
Untuk Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS), GWM diturunkan dari 7,5% menjadi 6,5% mulai 1 November 2026, lalu lanjut diturunkan menjadi 5,5% mulai 1 Desember 2025.
Penurunan GWM sebesar total 2% secara bertahap ini, menurut Gubernur BI Destry Damayanti, berpotensi memberikan tambahan likuiditas hingga Rp 190 triliun bagi perbankan.
Baca Juga: Mencermati Unsur Kolusi dalam Kasus Kartel Bunga Pindar
“Jadi kita berusaha untuk mengoptimalkan semua kebijakan yang kami miliki, stabilitas itu tentunya uang utama kemudian yang kedua kita lihat juga di sini ada momentum pertumbuhan sehingga ini juga tentu harus bisa kita dorong,” jelas Destry dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (21/10/2026).
Seiring penurunan GWM, BI juga menyesuaikan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), yakni diturunkan dari total 6% menjadi 5% mulai 1 Desember 2026. Rinciannya, insentif financing channel diturunkan dari maksimal 4% menjadi 3%, sementara insentif pendalaman pasar uang (PPU) tetap maksimal 2%.
Lebih lanjut, Deputi Gubernur BI Solikin M. Juhro bilang insentif KLM terbaru telah disesuaikan berdasarkan evaluasi yang dilakukan BI. Dus, saat ini insentif financing channel difokuskan untuk sektor kredit yang mendukung penciptaan lapangan kerja.
Baca Juga: Bos CIMB Niaga Buka Suara Soal Isu Delisting: Masih Kaji Berbagai Opsi
Solikin bilang sektor-sektor yang termasuk dalam syarat insentif KLM masih akan tetap sama dengan sebelumnya. Hanya saja, persentase insentif untuk tiap subsektor bakal disesuaikan.
“Jadi sektornya ini kita evaluasi. Kalau sektor-sektor itu sudah digarap semakin baik, kita akan melakukan evaluasi mana sektor-sektor lain yang akan lebih ditopang,” jelas Solikin.
Menurut Solikin, penurunan GWM dan KLM secara bersamaan merupakan langkah komprehensif sebagai strategi menjaga stabilitas moneter dan sektor finansial secara terintegrasi. Sebab, penurunan GWM mengompensasi penurunan KLM dan di saat yang sama memberi ruang gerak lebih bagi bank untuk menyalurkan kredit ke sektor-sektor di luar cakupan KLM.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














