kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45900,82   11,02   1.24%
  • EMAS1.333.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

BI Rate Naik Jadi 6,25%, Begini Respons Bankir


Rabu, 24 April 2024 / 18:54 WIB
BI Rate Naik Jadi 6,25%, Begini Respons Bankir
ILUSTRASI. Pejalan kaki melintas dekat logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Selasa (24/7). KONTAN/Cheppy A. Muchlis/24/07/2018


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Bank Indonesia (BI) akhirnya memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,25% pada April 2024. Suku bunga deposit facility naik ke posisi 5,50% dan lending facility sebesar 7%.

Ini merupakan kenaikan BI rate yang pertama tahun ini, setelah terakhir kali BI menaikkan suku bunga pada bulan Oktober 2023.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kenaikan BI rate tersebut dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

“Ini untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak meningkat ketidakpastian global," ujar Perry saat konferensi pers Rapat Dewan Gubernur Bulanan BI, Rabu (24/4).

Baca Juga: Skenario Terburuk BI, The Fed Berpotensi Baru Menurunkan Suku Bunga pada 2025

Menanggapi hal tersebut Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, bahwa hal tersebut betul-betul sangat tepat, karena bisa Simpan reserve dollar dan bisa menambah kepercayaan investor.

Jahja juga menyorot perbandingan rentang kenaikan bunga acuan BI dan bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed). Selama ini, kenaikan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 5% sementara BI baru 2,5%.

"Gap kenaikan Bunga Fed yang 5% dengan BI yang baru 2,5% selama ini sudah sangat bagus dan hebat sekali," kata Jahja.

Walau demikian, Jahja mengaku BCA belum langsung menaikkan bunga dan akan memantau kebutuhan internal perusahaan terlebih dahulu.

Sementara Corporate Secretary Bank Mandiri Teuku Ali Usman menilai, kebijakan BI untuk menaikkan suku bunga acuan BI-7DRRR merupakan langkah pre-emptive dan ahead the curve Bank Sentral untuk memastikan stabilitas ekonomi dan pasar keuangan tetap terjaga di tengah risiko global yang meningkat.

Risiko ini termasuk konflik geopolitik di Timur Tengah dan potensi tertundanya kemungkinan penurunan tingkat suku bunga Amerika Serikat atau Fed Fund Rate (FFR).

"Dalam hal ini, kami menilai terjaganya stabilitas keuangan sangat penting bagi sektor keuangan khususnya perbankan dan ekonomi secara makro agar dapat menerapkan strategi yang lebih baik dan prudent, di tengah berbagai ketidakpastian dan fluktuasi global," katanya.

Adapun Direktur Bank Oke Indonesia Efdinal Alamsyah menyebut, kenaikan BI Rate cukup efektif untuk meredam pergolakan nilai tukar rupiah terhadap USD.

Baca Juga: BI Rate Naik, BI: Ada Perubahan Arah Penurunan Suku Bunga The Fed

"Secara historical kenaikan suku bunga acuan, biasanya lebih cepat diikuti oleh kenaikan suku Bunga DPK, khususnya deposito, akan tetapi suku bunga kredit tidak akan serta merta mengalami kenaikan, sebab penyesuaian suku bunga kredit juga tergantung faktor faktor lainnya," jelasnya.

Untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran

Menurut Efdinal, semua kebijakan moneter pasti sudah dipertimbangkan dengan baik oleh BI, dan dapat dipastikan memberikan dampak terhadap nilai tukar.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga melihat keputusan BI untuk menaikkan BI-rate bulan ini lebih didorong oleh faktor eksternal, yang saat ini penuh dengan ketidakpastian, dibandingkan dengan kondisi domestik.




TERBARU

[X]
×