Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menegaskan bahwa pembiayaan kepada PT Nextier Askara Center (NAC) dan PT Nextier GenAi Center (NGC) diberikan berdasarkan hasil penilaian menyeluruh terhadap kelayakan proyek dan prospek usaha.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menjelaskan, proses pembiayaan telah melalui analisis dan evaluasi dengan mempertimbangkan kondisi keuangan, kelayakan proyek, prospek usaha, sumber pembayaran, struktur pembiayaan, hingga kemampuan debitur memenuhi kewajibannya.
"BNI melihat kelayakan pembiayaan secara menyeluruh, termasuk prospek industri, potensi arus kas, kepastian sumber pembayaran, serta kemampuan proyek menghasilkan pendapatan. Seluruh aspek tersebut menjadi bagian dari pertimbangan sebelum fasilitas pembiayaan diberikan," ujar Okki dalam siaran pers hak jawab kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Baca Juga: Free Float Saham 26 Bank Masih di Bawah Ketentuan 15%, Begini Efeknya ke Harga Saham
Okki mengungkapkan, keberadaan kontrak dengan tenant atau pengguna fasilitas pusat data hingga ultimate buyer turut menjadi pertimbangan dalam menilai sumber pendapatan dan kemampuan pembayaran kredit.
"Keberadaan kontrak dengan tenant hingga pengguna akhir memberikan visibilitas terhadap sumber pendapatan dan arus kas proyek. Hal tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam menilai kemampuan pembayaran debitur sekaligus memperkuat mitigasi risiko pembiayaan," katanya.
Selain itu, fasilitas pembiayaan dilengkapi struktur pengamanan dan jaminan dari perusahaan induk serta mekanisme mitigasi lainnya sesuai dengan ketentuan pembiayaan yang disepakati.
Dalam pembiayaan tersebut, BNI bertindak antara lain sebagai Mandated Lead Arranger and Bookrunner serta menjalankan sejumlah fungsi keagenan. Struktur pembiayaan juga memungkinkan partisipasi lembaga pembiayaan lain, baik konvensional maupun syariah, melalui mekanisme sindikasi.
Dari sisi penggunaan dana, fasilitas pembiayaan kepada NAC antara lain digunakan untuk membiayai sebagian biaya pengambilalihan fasilitas pusat data di Kawasan Industri Jababeka serta pengembangan tambahan kapasitas JababekaDC sebesar 36 MW. Dengan tambahan tersebut, total kapasitas JababekaDC menjadi 42 MW.
Baca Juga: Jasindo Sebut Data Center Jadi Sektor yang Dicermati dalam Memberikan Perlindungan
Sementara itu, pembiayaan kepada NGC antara lain digunakan untuk membiayai sebagian pembangunan BatangDC dengan kapasitas hingga 60 MW.
Okki bilang pengembangan pusat data sejalan dengan meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital, termasuk kebutuhan komputasi dan pemanfaatan artificial intelligence (AI).
"Industri pusat data membutuhkan investasi awal yang besar dan periode pengembangan sebelum mencapai kapasitas operasional secara optimal. Namun, kebutuhan terhadap kapasitas data center terus tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan komputasi, layanan digital, dan pemanfaatan AI. Karena itu, BNI melihat sektor ini memiliki prospek jangka panjang yang kuat," kata Okki.
Ia menambahkan, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital juga terus mendorong pengembangan infrastruktur komputasi dan AI. Salah satu proyek yang telah diumumkan pemerintah menargetkan kapasitas AI Factory hingga 1 GW dalam tiga tahun, dengan tahap awal sekitar 200 MW di Batang, Jawa Tengah.
Ke depan, BNI akan melakukan monitoring secara berkala terhadap perkembangan proyek, kondisi operasional, arus kas, serta pemenuhan kewajiban debitur.
"BNI tetap berkomitmen mendukung pembiayaan sektor-sektor produktif dan strategis, termasuk pengembangan infrastruktur digital dan pusat data, dengan tetap menjaga kualitas aset, penerapan tata kelola yang baik, serta pengelolaan risiko secara prudent dan terukur," tukas Okki.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














