Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. BRI Ventures menilai tingginya rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) di industri modal ventura masih dipengaruhi karakteristik bisnis penyertaan modal yang menghasilkan pendapatan secara tidak reguler.
Chief Financial Officer BRI Ventures Indra Bayu Gunawan mengatakan, berbeda dengan perbankan atau perusahaan pembiayaan yang memperoleh pendapatan secara periodik, perusahaan modal ventura berinvestasi pada aset privat dengan horizon investasi jangka panjang.
Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan adanya perbedaan waktu antara pembentukan nilai investasi dan pengakuan pendapatan, sementara biaya operasional tetap dibukukan secara rutin setiap bulan.
Baca Juga: Bisnis Wealth Management Perbankan Tumbuh Positif di Tengah Gejolak Global
“Perbedaan timing antara pembentukan nilai investasi dan pengakuan pendapatan tersebut menyebabkan rasio BOPO pada periode tertentu dapat terlihat lebih tinggi,” ujar Indra kepada Kontan, belum lama ini.
Indra menjelaskan, dalam industri modal ventura, sebagian besar nilai ekonomi investasi baru terealisasi saat terjadi divestasi, distribusi dividen, maupun aksi korporasi tertentu. Di sisi lain, biaya operasional perusahaan tetap berjalan sehingga menekan rasio efisiensi.
Selain itu, ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mewajibkan Venture Capital Corporation (VCC) menempatkan minimal 51% portofolio pada instrumen penyertaan modal dan obligasi konversi turut memperkuat orientasi investasi jangka menengah hingga panjang di industri ini.
Karena itu, menurut Indra, rasio BOPO tidak dapat menjadi satu-satunya indikator untuk menilai kinerja perusahaan modal ventura. BRI Ventures juga memperhatikan indikator lain seperti rasio biaya operasional terhadap aset investasi yang dikelola (opex-to-investment ratio), produktivitas portofolio, serta kemampuan investasi menciptakan nilai jangka panjang.
Adapun OJK mencatat rasio BOPO industri modal ventura mencapai 97,63% per April 2026, membaik dibandingkan posisi Maret 2026 yang sebesar 98,03%.
Sayangnya, ia tidak menyebutkan atau menjelaskan lebih lanjut mengenai rasio BOPO perusahaan. Untuk semester II-2026, BRI Ventures melihat peluang perbaikan BOPO secara bertahap. Hal itu ditopang oleh pengelolaan portofolio yang lebih aktif, optimalisasi penempatan dana, serta upaya monetisasi investasi yang telah memasuki fase lebih matang.
“Namun demikian, pencapaian tersebut tetap akan dipengaruhi oleh kondisi pasar dan momentum realisasi investasi yang merupakan bagian dari siklus bisnis venture capital,” katanya.
Baca Juga: Saham BBCA Drop ke Rp 6.075, Analis Sebut Masih Jadi Bank Terkuat Ditopang Dana Murah
Dalam menjaga efisiensi, BRI Ventures mengedepankan strategi pengelolaan biaya yang disiplin, optimalisasi portofolio investasi, peningkatan produktivitas aset yang dikelola, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi proses bisnis.
Meski memandang BOPO yang lebih rendah mencerminkan tingkat efisiensi yang lebih baik, Indra menegaskan kesehatan perusahaan modal ventura tidak dapat diukur hanya dari satu rasio.
“Yang lebih penting adalah kemampuan perusahaan menjaga efisiensi biaya sekaligus menghasilkan pertumbuhan nilai investasi dan pengembalian yang berkelanjutan bagi pemegang saham,” ujarnya.
Karena itu, BRI Ventures berupaya membangun model bisnis modal ventura yang berkelanjutan melalui struktur biaya yang sehat, portofolio yang produktif, serta kemampuan menghasilkan nilai investasi jangka panjang secara konsisten.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













