kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.008   -24,00   -0,13%
  • IDX 6.234   -1,63   -0,03%
  • KOMPAS100 818   1,65   0,20%
  • LQ45 624   2,69   0,43%
  • ISSI 216   0,62   0,29%
  • IDX30 350   0,23   0,07%
  • IDXHIDIV20 430   0,32   0,08%
  • IDX80 94   0,31   0,33%
  • IDXV30 119   1,05   0,89%
  • IDXQ30 112   0,22   0,20%

Di Tengah Bunga Tinggi, Sejumlah Bank Besar Berhasil Tekan Kredit Macet Semester I


Senin, 03 Agustus 2026 / 16:13 WIB
Di Tengah Bunga Tinggi, Sejumlah Bank Besar Berhasil Tekan Kredit Macet Semester I
ILUSTRASI. DPK Perbankan: Teller menghitung uang di Bank Mandiri, Jakarta (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kualitas aset industri perbankan masih menunjukkan ketahanan di tengah tingginya suku bunga dan perlambatan daya beli masyarakat.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio NPL gross perbankan pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,17%, stagnan dibandingkan April 2026. Namun, angka tersebut membaik dibandingkan posisi Mei 2025 yang mencapai 2,29%.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), misalnya, berhasil menurunkan rasio NPL bank only menjadi 0,98% pada Juni 2026, membaik 9 basis poin (bps) dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 1,08%.

Baca Juga: Kantongi Persetujuan OJK, Bank Danamon Resmi Mengangkat Komisaris Baru

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan, penurunan rasio NPL mencerminkan keberhasilan perseroan menjaga kualitas aset di tengah ekspansi bisnis.

"Tidak hanya tumbuh dari sisi volume bisnis, Bank Mandiri juga mampu mempertahankan kualitas aset dengan baik yang tercermin dari rasio NPL sebesar 0,98%, coverage ratio yang stabil di 242%, serta cost of credit sebesar 0,52%," ujar Novita saat paparan kinerja perseroan, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, capaian tersebut sejalan dengan strategi perseroan yang fokus menyalurkan kredit ke sektor-sektor prospektif dan resilien, memperkuat ekosistem bisnis, serta mendukung agenda strategis pemerintah.

Meski demikian, bila ditelusuri dari laporan keuangannya, berdasarkan segmen, tekanan kualitas aset masih terlihat pada pembiayaan ritel. Rasio NPL segmen mikro dan payroll naik menjadi 3,18% dari 2,60% pada Juni 2025. NPL konsumer juga meningkat menjadi 3,20% dari 2,51%, sedangkan segmen UKM naik menjadi 1,18% dari 0,95%.

Sebaliknya, kualitas kredit korporasi dan komersial justru membaik. NPL korporasi turun menjadi 0,25% dari 0,34%, sementara NPL komersial menyusut menjadi 0,63% dari 1,02%.

Perbaikan kualitas aset juga dibukukan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Hingga semester I-2026, rasio NPL BCA turun menjadi 1,9% dibandingkan 2,2% pada periode yang sama tahun lalu.

Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, perseroan terus menjaga kualitas kredit melalui penerapan prinsip kehati-hatian.

Baca Juga: Bank Danamon Optimistis Kredit Tetap Tumbuh pada Tahun 2026

"BCA senantiasa menyalurkan kredit ke berbagai segmen dan sektor dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin manajemen risiko. Kami juga terus melakukan monitoring risiko kredit serta menyediakan solusi proaktif kepada nasabah sehingga rasio NPL tetap terjaga di level 1,9% turun dari 2,2% di Juni 2025," ujar Hera.

Secara komposisi, portofolio kredit bermasalah BCA masih didominasi segmen korporasi dengan porsi 33,4%, disusul konsumer 24,9%, komersial 20,8%, dan UKM sebesar 19,6%.

Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatat rasio NPL gross turun menjadi 3,0% pada Juni 2026 dibandingkan 3,3% setahun sebelumnya.

Perbaikan terutama terjadi pada portofolio non-housing loan yang rasio NPL-nya turun menjadi 0,9% dari 1,2%. Penurunan tersebut ditopang membaiknya kualitas kredit konsumsi yang NPL-nya turun dari 1,2% menjadi 0,4%, serta kredit komersial yang turun menjadi 3,5% dari sebelumnya 4,0%.

Di sisi lain, kualitas kredit sektor perumahan relatif stabil. Rasio NPL housing loan berada di level 3,5%, sedikit lebih rendah dibandingkan 3,7% pada Juni 2025. NPL KPR subsidi tetap terjaga di level 1,4%, sedangkan NPL KPR nonsubsidi naik tipis menjadi 5,3% dari 5,2%.

Namun demikian, tekanan masih terlihat pada pembiayaan konstruksi. Rasio NPL kredit konstruksi meningkat menjadi 19,4% dibandingkan 15,0% pada periode yang sama tahun lalu.

Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo mengatakan, perseroan tetap optimistis tren perbaikan kualitas aset berlanjut hingga akhir tahun.

Baca Juga: Pendapatan Turun, Laba Mandiri Tunas Finance Justru Naik 8,68% pada Semester I-2026

"Kami optimistis tren perbaikan masih dapat berlanjut meskipun tetap mewaspadai dinamika suku bunga dan kondisi ekonomi. BTN akan terus menjaga pertumbuhan kredit secara selektif dengan memperkuat underwriting berbasis risiko, early warning system, pemantauan portofolio secara intensif, serta percepatan restrukturisasi dan recovery," ujar Setiyo.

BTN menargetkan rasio NPL gross dapat terus membaik hingga berada di bawah level 3% pada akhir 2026.

Kinerja serupa juga ditunjukkan PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN). Hingga semester I-2026, rasio NPL gross Danamon turun menjadi 1,7% dari 2,0% pada periode yang sama tahun lalu.

Direktur Manajemen Risiko Bank Danamon Dadi Budiana mengatakan, rasio tersebut telah bertahan sejak akhir kuartal I-2026.

"Kondisi NPL kami saat ini berada di posisi 1,7%. Angka tersebut sudah bertahan sejak akhir kuartal pertama tahun ini dan masih berada pada level yang sangat baik," ujar Dadi.

Ia mengakui pelemahan daya beli masyarakat masih menjadi tantangan. Namun, menurutnya kondisi tersebut belum memberikan tekanan berarti terhadap kualitas aset perseroan.

Danamon, lanjut Dadi, terus memperketat proses underwriting, meningkatkan monitoring portofolio, serta memperkuat fungsi collection sehingga kualitas kredit tetap terjaga.

Sementara itu, kualitas aset bank besar lain seperti, PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) dan PT Bank Permata Tbk (BNLI) relatif stabil. Hingga Juni 2026, rasio NPL gross OCBC tetap berada di level 1,9%, sedangkan PermataBank bertahan di level 2,1%.

Baca Juga: OJK Menunda Rencana Penyesuaian Tarif Premi Kendaraan Bermotor, Ini Kata AAUI

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, penurunan NPL bank-bank besar mencerminkan membaiknya kualitas aset industri perbankan.

Menurutnya, kondisi tersebut didorong oleh semakin membaiknya kualitas kredit pascarestrukturisasi, penyaluran kredit yang lebih selektif, pencadangan yang kuat, serta pemulihan aktivitas ekonomi.

"Penurunan NPL bank-bank besar pada semester I-2026 didorong oleh membaiknya kualitas kredit pasca restrukturisasi, penyaluran kredit yang lebih selektif, pencadangan yang kuat, serta pemulihan ekonomi sehingga NPL industri tetap rendah di kisaran 2,17%," ujar Trioksa.

Meski demikian, ia mengingatkan risiko kredit masih relatif tinggi pada segmen UMKM, mikro, kredit konsumsi tanpa agunan, serta sektor padat karya dan perdagangan yang lebih sensitif terhadap tingginya suku bunga.

Sebaliknya, kualitas kredit korporasi besar dan sejumlah sektor produktif mulai menunjukkan tren perbaikan.

Trioksa memperkirakan rasio NPL gross industri hingga akhir tahun masih berada pada kisaran 2,1%-2,3%.

"Hingga akhir tahun, suku bunga yang masih tinggi memang berpotensi meningkatkan risiko gagal bayar secara bertahap. Namun saya memperkirakan NPL gross industri masih terkendali di kisaran 2,1%-2,3% karena permodalan dan pencadangan perbankan tetap kuat," ujarnya.

Menurut Trioksa, untuk menjaga kualitas aset tetap sehat, perbankan perlu memperketat analisis kredit berbasis arus kas, memperkuat sistem peringatan dini (early warning system), melakukan stress testing secara berkala.

Baca Juga: OJK Menunda Rencana Penyesuaian Tarif Premi Kendaraan Bermotor, Ini Kata AAUI

Selain itu, menjaga kecukupan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), serta mempercepat restrukturisasi dan penyelesaian kredit bermasalah sebelum kualitasnya semakin memburuk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×