kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Bos BCA Sudah Lama Mandiri Finansial Tapi Tetap Bekerja, Ini Alasannya


Senin, 03 Maret 2025 / 09:27 WIB
Bos BCA Sudah Lama Mandiri Finansial Tapi Tetap Bekerja, Ini Alasannya
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja.


Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, mengungkapkan bahwa dirinya telah mencapai kebebasan finansial.

Namun, ia memilih untuk tetap bekerja dan tidak menjalani konsep Financial Independence Retire Early (FIRE) yang memungkinkan seseorang untuk pensiun dini setelah mencapai kemandirian finansial.

Jahja menilai bahwa konsep FIRE mencerminkan sikap yang egois. Menurutnya, dalam budaya masyarakat Indonesia, seharusnya seseorang tidak hanya fokus pada diri sendiri tetapi juga berkontribusi bagi orang lain.

Baca Juga: Giliran Bos BCA Soroti Perilaku Influencer Saham

"Tapi itu tidak wise, Anda selfish, jujur saja nih, sorry yang beraliran FIRE itu Anda adalah manusia-manusia selfish," ujar Jahja dalam emiten talk BCA akhir pekan lalu.

Ia menegaskan bahwa jika dirinya ingin mengikuti gaya hidup FIRE, hal itu sudah bisa ia lakukan sejak lama. Saat ini, Jahja memiliki 34.187.785 saham BCA yang bernilai sekitar Rp 288 miliar berdasarkan harga saham akhir pekan lalu.

Dengan aset tersebut, ia bisa hidup dari bunga dan surat berharga negara (SBN) tanpa perlu bekerja lagi.

Namun, ia menolak untuk berhenti bekerja. Jahja mengaku lebih memilih meneladani para pengusaha besar yang terus berbisnis demi membuka lebih banyak lapangan kerja.

Baca Juga: Bos Bank BCA Ungkap Tips Investasi Saat Pasar Saham Turun, Ingatkan Tidak Panik

Menurutnya, langkah ini lebih bermanfaat bagi perekonomian nasional, terutama mengingat produk domestik bruto (PDB) per kapita masyarakat Indonesia masih rendah.

"Anda kalau sudah merasa independen (finansial), bukan untuk pensiun, tetapi berusaha terus, coba hire orang, kasih makan orang," katanya.

Jahja menambahkan bahwa seseorang baru bisa disebut nasionalis jika memiliki kepedulian terhadap sesama dan berkontribusi bagi perekonomian negara. Menurutnya, nasionalisme tidak hanya ditunjukkan saat peringatan hari kemerdekaan, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

[X]
×