kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 17.745   -8,00   -0,05%
  • IDX 6.563   37,78   0,58%
  • KOMPAS100 860   8,64   1,01%
  • LQ45 651   7,57   1,18%
  • ISSI 229   0,44   0,19%
  • IDX30 365   4,24   1,18%
  • IDXHIDIV20 450   6,72   1,52%
  • IDX80 98   1,02   1,05%
  • IDXV30 125   1,04   0,84%
  • IDXQ30 116   1,57   1,37%

BRI Ungkap Penopang Laba Tumbuh 17,5% pada Semester I-2026


Selasa, 01 September 2026 / 11:07 WIB
BRI Ungkap Penopang Laba Tumbuh 17,5% pada Semester I-2026
ILUSTRASI. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) berhasil mencatat penguatan kinerja pada semester I-2026 (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) berhasil mencatat penguatan kinerja pada semester I-2026. Pertumbuhan kredit, perbaikan struktur pendanaan, serta peningkatan pendapatan berbasis komisi menjadi sejumlah faktor yang menopang kenaikan laba bersih perseroan.

BRI membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 31,18 triliun pada semester I-2026, tumbuh 17,5% secara tahunan (year on year/yoy).

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengungkapkan, pertumbuhan laba tersebut terutama ditopang oleh perbaikan struktur pendanaan, pertumbuhan kredit, serta peningkatan pendapatan berbasis komisi (fee based income).

Hery mengatakan, pendapatan bank pada dasarnya didorong oleh pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) dan fee based income. Karena itu, kemampuan bank dalam memobilisasi dana masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan kinerja.

"Revenue bank itu didrive dari yang namanya net interest income dan fee based income. Bank ini sebenarnya lembaga intermediasi, fungsinya memobilisasi dana masyarakat dan menyalurkan dalam bentuk pembiayaan atau kredit," ujar Hery dalam paparan kinerja BRI, Senin (31/8/2026).

Baca Juga: BRI Siapkan Strategi Jaga Likuiditas hingga Akhir 2026

Menurut Hery, salah satu fokus utama transformasi BRI melalui BRIVolution Reignite adalah memperbaiki struktur pendanaan perseroan, terutama dengan meningkatkan porsi dana murah atau CASA.

Pada semester I-2026, dana pihak ketiga atau DPK BRI tumbuh 6,65% menjadi Rp 1.581 triliun. BRI berupaya meningkatkan CASA dengan memperkuat kapabilitas transaction banking.

Pasalnya, dana murah berupa tabungan dan giro dinilai sulit tumbuh apabila rekening operasional dan aktivitas transaksi nasabah tidak berada di BRI.

Untuk itu, BRI terus meningkatkan kapabilitas aplikasi BRImo, baik dari sisi tampilan maupun fitur, sehingga nasabah semakin nyaman menggunakannya untuk bertransaksi.

"Kalau transaksinya besar, kemudian volume transaksi dan frekuensinya besar, sehingga balance saldonya juga makin banyak di kita," jelas Hery.

Strategi tersebut juga diperkuat melalui jaringan dan ekosistem transaksi BRI, termasuk BRILink dan QRIS. Hasilnya, rasio CASA BRI meningkat ke posisi yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain pendanaan, pertumbuhan kredit menjadi kontributor penting terhadap kinerja laba BRI. BRI mencatat pertumbuhan kredit sebesar 16,16% yoy menjadi Rp 1.646 triliun.

Hery mengatakan BRI tetap fokus pada segmen UMKM dengan porsi lebih dari 75% dari total portofolio kredit dan pembiayaan. Pertumbuhan kredit mikro dan segmen small medium enterprise (SME) juga terus meningkat, diikuti pertumbuhan pada segmen konsumer.

"Pertumbuhan kredit yang mulai membaik ini dan yield yang cukup baik, itu membuat kita menjadi bank yang bisa mendukung pertumbuhan," katanya.

Sebelumnya, BRI mencatat total kredit dan pembiayaan konsolidasian mencapai Rp 1.646 triliun pada Juni 2026, tumbuh 16,2% yoy. Dari jumlah tersebut, sekitar 75,1% atau Rp 1.235,4 triliun disalurkan ke segmen UMKM.

 

Di sisi lain, BRI juga terus mendorong pertumbuhan pendapatan nonbunga. Menurut Hery, fee based income didorong melalui peningkatan transaksi, biaya administrasi, serta berbagai aktivitas transaksi lainnya.

"Fee based income juga kita dorong terus, baik itu dari transaksi maupun dari biaya administrasi, kemudian transaksi yang lain," ujarnya.

Kombinasi penguatan struktur pendanaan, pertumbuhan kredit, dan peningkatan pendapatan berbasis komisi tersebut akhirnya menopang pertumbuhan laba konsolidasi BRI sebesar 17,5% yoy pada semester I-2026.

Hery menilai pencapaian tersebut menjadi momentum positif bagi BRI di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh dinamika.

"Kita mengerti bahwa di tengah dinamika ekonomi yang tidak terlalu menjanjikan, tapi BRI mampu membangun momentum pertumbuhan semakin sehat dan berkualitas," pungkas Hery.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×