Reporter: Ade Priyatin | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan indeks literasi pergadaian sebesar 52,82% sedangkan indeks inklusinya baru menyentuh 7,99%.
Meski indeks literasi cukup tinggi, perusahaan pergadaian swasta PT Budi Gadai Indonesia menyebut masih ada sejumlah tantangan yang menghambat literasi pergadaian di Indonesia.
Salah satunya adalah pemahaman masyarakat akan industri pergadaian masih terbatas hanya sebagai tempat memperoleh dana cepat saja, tetapi belum bisa memahami secara menyeluruh karakter produk, biaya, jangka waktu, risiko, serta hak dan kewajiban sebagai nasabah.
Baca Juga: Surya Fajar Capital Restrukturisasi Anak Usaha, Kuasai 99,997% Bursa Akselerasi
Di samping itu, pemahaman masyarakat terhadap produk gadai juga masih belum merata terutama di wilayah tertentu dan pada segmen masyarakat yang memiliki akses informasi terbatas.
"Menurut Perusahaan, salah satu penghambat literasi di industri pegadaian adalah masih adanya masyarakat yang mengenal pegadaian terutama sebagai tempat memperoleh dana secara cepat," ujarnya kepada Kontan, Jumat (14/8/26).
Dengan inklusi pergadaian yang masih terbatas, Budi Gadai Indonesia telah berupaya meningkatkannya melalui penyediaan layanan gadai yang mudah diakses masyarakat dengan proses pelayanan yang cepat dan sesuai dengan kebutuhan.
Namun, mereka juga terus berupaya mendorong literasi keuangan agar peningkatan inklusi bisa sejalan dengan meningkatnya pemahaman masyarakat akan industri pergadaian.
Upaya yang dilakukan adalah dengan memberikan penjelasan kepada nasabah mengenai karakteristik produk, biaya atau tarif gadai yang berlaku, jangka waktu pinjaman, jatuh tempo, hingga menjelaskan tentang hak dan kewajiban nasabah sebelum transaksi dilakukan.
Edukasi pun dilakukan dengan dua metode, yaitu dilakukan langsung di kantor cabang maupun secara daring melalui konten media sosial agar lebih sederhana dan mudah dipahami.
Selain itu, mereka juga berupaya memperluas akses layanan gadai ke masyarakat dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan kemampuan nasabah.
Strategi perluasan akses layanan, salah satunya dilakukan perusahaan dengan melakukan ekspansi jaringan kantor cabang. Per tahun 2026 ini, Budi Gadai Indonesia menargetkan 12 kantor cabang baru sehingga pada akhir 2026 mereka diproyeksikan akan memiliki 46 cabang kantor.
Di luar itu, Budi juga berpendapat bahwa inklusi dan literasi keuangan harus dilakukan dengan edukasi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan, memanfaatkan media digital, hingga edukasi pada kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses dan pemahaman terhadap layanan keuangan.
Menurutnya, sejumlah upaya tersebut masih harus ditingkatkan oleh industri pergadaian maupun industri keuangan secara umum di samping memprioritaskan penguatan operasional dan pelayanan di cabang.
Baca Juga: Digitalisasi Perbankan Syariah Perlu Didorong, Tantangan Legacy System Jadi Sorotan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
