kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Cadangan devisa Indonesia sudah tak sehat


Kamis, 18 Juli 2013 / 13:52 WIB
Cadangan devisa Indonesia sudah tak sehat
ILUSTRASI. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan peringatan bagi para influencer terkait Binary Option. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay


Reporter: Annisa Aninditya Wibawa, Marti Riani Maghfiroh |

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) sudah mengorbankan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Posisi cadangan devisa Indonesia akhir Juni merosot US$ 7 miliar hingga US$ 98,1 miliar atau ke posisi terendah dua tahun.

Pengamat menilai bahwa ada beberapa hal yang perlu BI lakukan untuk mengembalikan posisi cadangan devisa tersebut. Pasalnya, kondisi cadangan devisa yang sehat mestinya di atas US$ 100 miliar.

Direktur Investasi Manulife Financial, Alvin Pattisahusiwa melihat bahwa BI perlu memperhatikan hal-hal ini untuk meningkatkan cadangan devisa ke posisi normal. Pertama, yaitu Foreign Domestic Investment (FDI) yang masuk. Menurutnya, BI perlu mendorong capital inflow dari pasar modal.

"Bila di Indonesia tak ada capital outflow lagi, akan menutup peluang orang melakukan arbitrase dengan menaruh di rupiah atau dollar," ucap Alvin, di Sampoerna Strategic Square, Kamis, (18/7).

Cara yang dilakukan misalnya dengan menerbitkan global bonds. Alvin menyebut bahwa dalam beberapa kali BI melakukan issuance global bonds pun kerap terjadi over subscribe. "Itu bisa menambah pundi-pundi cadangan devisa," ujarnya.

Kemudian, perdagangan ekspor dan impor pun bisa menjadi hal yang dapat meningkatkan cadangan devisa. Hanya saja, kondisi ekspor saat ini cenderung tidak bagus karena harga batu bara dan minyak sawit mentah yang sedang tidak menguntungkan.

Ilustrasi foto: Shutterstock

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×