Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana Pensiun BCA atau Dapen BCA (DPBCA) yang merupakan Dana Pensiun Pemberi Kerja dengan Program Iuran Pasti (DPPK PPIP) membeberkan sejumlah kelebihan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) bagi dana pensiun.
Direktur Utama Dana Pensiun BCA Budi Sutrisno menyebut SRBI merupakan instrumen pendapatan tetap berjangka waktu pendek hingga menengah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Dengan demikian, instrumen itu memiliki tingkat keamanan dan kredibilitas yang sangat tinggi.
Baca Juga: BRImo Tebar Promo Buy 1 Get 1 untuk Pembelian Tiket Cherrypop 2026
"Selain itu, instrumen tersebut memberikan imbal hasil yang menarik dengan fleksibilitas likuiditas yang baik, karena diperdagangkan di pasar sekunder," ucapnya kepada Kontan, Selasa (18/8).
Budi menuturkan keunggulan likuiditas itu menjadi pendukung vital bagi pengelolaan aset dan liabilitas, terutama dalam memastikan ketersediaan dana siap pakai untuk memenuhi tren kenaikan pembayaran manfaat pensiun peserta secara tepat waktu.
Lebih lanjut, Dapen BCA juga turut angkat bicara mengenai penambahan alokasi di SRBI seiring kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate 100 basis poin dan kini di level 5,75%. Terkait hal itu, Budi mengatakan Dana Pensiun BCA juga memanfaatkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, sejalan dengan strategi pengelolaan portofolio yang aktif dan terukur.
Untuk ke depannya, dia menyampaikan potensi penambahan alokasi di SRBI akan sangat bergantung pada kebutuhan pengelolaan likuiditas internal dan evaluasi atas profil kecukupan kewajiban pembayaran manfaat pensiun.
"Oleh karena itu, kami akan tetap mengedepankan fleksibilitas dan prinsip kehati-hatian dalam setiap keputusan penempatan," ujar Budi.
Per Juli 2026, porsi penempatan Dapen BCA di instrumen SRBI tercatat sebesar 15,6% dari total portofolio investasi.
Asal tahu saja, data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, penempatan dapen di SRBI sebesar Rp 10,90 triliun per Juni 2025, pamornya sempat turun ke level Rp 3,29 triliun per akhir 2025. Namun, kembali naik drastis menjadi Rp 17,40 triliun per Juni 2026.
Baca Juga: BI Pastikan KKI dan Visa-Mastercard Bisa Beroperasi Berdampingan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
