Reporter: Aura Putri | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan terus mendorong dunia usaha melakukan transisi menuju bisnis yang lebih berkelanjutan melalui penyaluran Sustainability-Linked Loan (SLL).
Skema pembiayaan ini mengaitkan fasilitas pinjaman dengan pencapaian target kinerja keberlanjutan yang ditetapkan debitur.
Melalui SLL, bank tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga mendampingi nasabah dalam mencapai target keberlanjutan dan mengantisipasi risiko lingkungan yang dapat memengaruhi kegiatan usaha dalam jangka panjang.
Baca Juga: BI Otak-atik Insentif Demi Jaga Likuiditas Perbankan
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), misalnya, mencatat portofolio SLL sebesar US$ 279 juta atau sekitar Rp 4,88 triliun hingga semester I 2026. Nilai tersebut turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 352 juta atau sekitar Rp 5,74 triliun.
Pembiayaan tersebut disalurkan kepada enam debitur yang bergerak di sektor manufaktur semen, industri kemasan, dan petrokimia.
Dari jumlah itu, empat debitur telah mencapai target kinerja keberlanjutan, sedangkan dua debitur lainnya masih dalam proses peninjauan.
Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat portofolio SLL sebesar US$ 339 juta atau sekitar Rp 5,6 triliun hingga semester I 2026.
Adapun PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatat porsi SLL sebesar 23,8% dari total pembiayaan berkelanjutan pada semester I 2026, setara sekitar Rp 8,95 triliun. Porsi tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 17,7%, berdasarkan presentasi perusahaan pada Kamis (22/10/2026).
Adapun PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan portofolio pembiayaan berkelanjutan melalui skema SLL sebesar Rp 3,5 triliun per Juni 2026. Nilai tersebut tumbuh 32% secara tahunan (year on year/YoY).
Baca Juga: Persaingan Ketat Tekan Premi Asuransi Marine Cargo, Risiko Klaim Meningkat
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, pembiayaan SLL BCA disalurkan ke sejumlah sektor usaha, antara lain perkebunan, industri kimia dan plastik, serta properti.
“BCA senantiasa memperhatikan dan mengelola dampak lingkungan dari kegiatan bisnis perusahaan dengan kebijakan pembiayaan yang bertanggung jawab,” ujar Hera kepada KONTAN, Kamis (22/10/2026).
Di sisi lain, PT Bank Permata Tbk (BNLI) mencatat pembiayaan sindikasi dengan mekanisme SLL sebesar Rp 1,59 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat 195,5% secara tahunan.
Division Head of Sustainability Permata Bank Harfelia Desti mengatakan, pada 2026 perseroan terus berupaya membantu nasabah menyusun strategi transisi bisnis.
Baca Juga: Allianz Syariah Catatkan Kontribusi Rp 1,5 Triliun per Agustus 2026
Pendampingan tersebut mencakup identifikasi peluang usaha sekaligus antisipasi risiko jangka panjang yang berkaitan dengan aspek keberlanjutan.
“Kami ingin bantu nasabah menyusun strategi transisi bisnis, termasuk siap menyediakan pembiayaan. Selama mereka memiliki target untuk menerapkan keberlanjutan, kami terbuka untuk semua sektor,” ujar Harfelia di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














