Reporter: Secillia Hafifah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fenomena downgrade konsumsi akibat menyusutnya pendapatan masyarakat berpotensi menekan permintaan produk asuransi terkait gaya hidup.
Produk seperti asuransi perjalanan, asuransi gadget, asuransi konser, hingga proteksi hobi dinilai menghadapi tantangan karena bersifat discretionary atau pelengkap.
Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo mengatakan, pelemahan daya beli kelas menengah membuat masyarakat cenderung memangkas pengeluaran non-primer dan beralih pada strategi konsumsi yang lebih hemat.
Baca Juga: BCA Ikut Danai 13 Proyek Besar, Nilai Kredit Sindikasi Capai Rp 27,6 Triliun
“Fenomena downgrade konsumsi akibat menyusutnya pendapatan masyarakat berdampak signifikan terhadap permintaan produk asuransi terkait gaya hidup (lifestyle insurance),” ujar Irvan kepada Kontan, Senin (5/10/2026).
“Ketika daya beli kelas menengah melemah, masyarakat cenderung memangkas pengeluaran non-primer dan beralih ke strategi bertahan hidup yang lebih hemat,” tambahnya.
Menurutnya, produk asuransi yang melekat pada pengeluaran gaya hidup menjadi salah satu lini yang paling terdampak ketika masyarakat mulai mengurangi pengeluaran discretionary.
“Ketika terjadi penurunan daya beli dan tren downgrade konsumsi di masyarakat (terutama pada kelas menengah), produk asuransi yang bersifat non-primer dan melekat pada pengeluaran gaya hidup (discretionary spending) menjadi yang paling pertama dan paling dalam terkena dampaknya. Konsumen cenderung kembali fokus pada kebutuhan pokok dan memangkas pos biaya proteksi sekunder,” katanya.
Kondisi tersebut juga berpotensi membatasi pertumbuhan premi industri asuransi pada 2026. Irvan memperkirakan pertumbuhan premi berada pada kisaran 3% hingga 6%.
Baca Juga: Bidik Sektor Produktif, Bank Nagari Tetap Ekspansif di Kuartal IV 2026
“Penurunan konsumsi dan daya beli masyarakat berpotensi menahan laju pertumbuhan target premi industri asuransi di level yang moderat, yaitu pada kisaran 3% hingga 6% untuk tahun 2026,” jelasnya.
Meski Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan asosiasi industri seperti AAJI dan AAUI tetap optimistis target tersebut tercapai, pelemahan daya beli dinilai mengubah struktur perolehan premi.
“Hingga semester I-2026, akumulasi premi asuransi komersial mencapai Rp 170,98 triliun (tumbuh tipis 2,84% yoy), yang mencerminkan pertumbuhan terbatas akibat tekanan ekonomi rumah tangga,” jelas Irvan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














