Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Avrist mencatat pertumbuhan aset kelolaan yang masih positif pada kuartal I-2026. Bahkan, pertumbuhan aset perusahaan disebut melampaui rata-rata industri dana pensiun.
Presiden Direktur DPLK Avrist, Firmansyah mengklaim bahwa aset kelolaan DPLK Avrist tumbuh sekitar 8,65% secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal I-2026. Sayangnya, ia tak merinci besaran angka aset tersebut.
“Kami melihat pertumbuhan ini didorong oleh kombinasi beberapa faktor, mulai dari pertumbuhan kepesertaan, peningkatan iuran, hingga stabilitas hasil investasi di tengah dinamika pasar yang masih cukup menantang,” ujar Firmansyah kepada Kontan, Jumat (8/5/2026).
Baca Juga: Kredit Manufaktur Diprediksi Melambat, Permata Bank: Ini Tantangan Pemerintah!
Dalam menjaga pertumbuhan aset ke depan, DPLK Avrist mengedepankan strategi investasi yang pruden dan berkelanjutan. Sebagai DPLK yang menerapkan participant choice investment, perusahaan menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko serta pilihan investasi peserta.
Firmansyah bilang, perusahaan aktif mencermati durasi instrumen investasi, komposisi portofolio, kualitas underlying asset, stabilitas likuiditas, hingga arah pergerakan suku bunga.
“Dalam dana pensiun, fokus kami bukan return yang agresif, tetapi return yang konsisten dan sustainable,” katanya.
Baca Juga: Bank Syariah Kompak Catatkan Pertumbuhan Kinerja Laba Dobel Digit, Ini Jawaranya
Di sisi lain, perusahaan juga melakukan penyesuaian portofolio investasi seiring dinamika pasar dan perubahan siklus suku bunga. Fokus penyesuaian dilakukan pada durasi fixed income, kualitas instrumen, penguatan instrumen likuid, serta optimalisasi yield dengan risiko yang terukur.
Firmansyah menyebut DPLK Avrist saat ini tidak memiliki fund berbasis saham sehingga volatilitas portofolio relatif lebih terjaga dibandingkan instrumen yang lebih agresif.
Sebagai informasi, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, total aset dana pensiun mencapai Rp 1.684,89 triliun per Maret 2026. Angka tersebut tumbuh 10,49% secara tahunan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













