Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Permata Bank memprediksi kredit di sektor manufaktur, yang notabenenya menjadi salah satu industri penopang perekonomian Indonesia, bakal melanjutkan tren perlambatan yang saat ini sudah mulai terjadi.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyoroti penyaluran kredit di sektor manufaktur yang menurut catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hanya tumbuh 5,71% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Februari 2026.
Hasil tersebut relatif melambat dari pertumbuhan 6,6% yoy pada Januari 2026 dan 8,78% yoy pada Maret 2025.
Baca Juga: Bank Syariah Kompak Catatkan Pertumbuhan Kinerja Laba Dobel Digit, Ini Jawaranya
Sejalan dengan itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia di awal kuartal II-2026 ini kembali memasuki fase kontraksi, dengan hasil 49,1 pada April 2026, turun dari posisi 50,1 pada Maret 2026.
Dari data tersebut, Permata Bank melihat industri manufaktur domestik sudah mulai terpapar efek lonjakan harga energi global dan ketersediaan bahan baku. Hal ini menyebabkan proses produksi terganggu, dan terjadi utamanya pada industri yang bahan baku intinya merupakan turunan dari minyak mentah seperti petrokimia.
“Di sini sudah mulai terjadi perlambatan dari sisi penyaluran kredit kepada sektor manufaktur, PMI manufaktur di awal kuartal II sudah menunjukkan tanda-tanda perlambatan, tentunya ini menjadi tantangan yang harus dijawab pemerintah,” jelas Josua dalam media briefing, Selasa (12/5/2026).
Lebih lanjut, Josua bilang pemerintah perlu menetapkan langkah-langkah antisipasi untuk mencegah penurunan produktivitas di industri manufaktur, yang pada gilirannya bisa berimbas pada penurunan jangkauan kerja buruh dan pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Itu kondisi yang harus dimitigasi ke depannya. Karena kalau kami lihat, sebagian besar sektor dari risiko kreditnya masih tetap terjaga,” kata Josua.
Secara umum, Josua juga melihat pertumbuhan kredit perbankan juga lebih dipengaruhi oleh agenda program prioritas pemerintah. Itu terlihat dari perkembangan kredit yang lebih didorong oleh kredit investasi yang tumbuh lebih dari 20,85%.
Namun, capaian itu belum selaras dengan kredit modal kerja yang tercatat hanya tumbuh 4,38%. Menurutnya, ini perlu menjadi perhatian karena artinya permintaan kredit masih relatif terbatas tanpa dorongan program pemerintah.
Baca Juga: Kolaborasi Panjang BWS dalam Ekosistem Transaksi Perbankan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













