Reporter: Astri Kharina Bangun | Editor: Sanny Cicilia
JAKARTA. Tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) menuai berbagai pendapat.
Pengamat ekonomi, Tony Prasetiantono misalnya menilai, tren penurunan BI rate yang cepat akhir tahun lalu menjadi salah satu faktor pelemahan rupiah beberapa hari terakhir. BI rate berada di level 6,5% pada Oktober, dan menjadi 6% pada November.
"Inflasi rendah, BI rate turun. Tapi mereka lupa kalau ke depan inflasi akan naik. Padahal, BI rate ikut menyangga modal asing, daya tarik investasi asing. Dengan penurunan itu, lem kita kurang kuat jadinya bagi investor," kata Tony, Rabu (14/3).
Menurut dia, dengan target inflasi maksimal akhir tahun 7%, posisi BI rate saat ini di 5,75% terlalu kecil. Level ini pas diterapkan ketika inflasi di kisaran 3,65%.
"Kalau kuartal kedua inflasi naik lagi. Apalagi dengan BBM akan naik. Rupiah masih sulit menguat. Belum ada sentimen yang membuat rupiah menguat. Tapi ada harapan Eropa membaik," kata Tony.
Angka asumsi pertumbuhan ekonomi tahun ini juga dinilai menjadi pendorong investor melepas rupiah. Dalam asumsi makro yang disepakati pemerintah dan komisi XI DPR, target pertumbuhan ekonomi di kisaran 6,3% - 6,7%.
Menurut Tony, angka tersebut tidak realistis dan justru mengundang keraguan pasar, sehingga mereka melepas rupiah. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi kita 6,5%.
"China saja merevisi 8% menjadi 7,5% akibat tekanan krisis ekonomi global, masak kita 6,7%? Jika ingin membuat kisaran, jangan menabrak 6,5%," ujar Tony.
Selain dipengaruhi sentimen dalam negeri, sentimen luar negeri juga turut mempengaruhi gerak rupiah. Harapan masih ada bagi penguatan rupiah jika kondisi Eropa membaik. Namun, bila di dalam negeri sentimen negatif akibat kenaikan BBM muncul, rupiah bisa kembali melemah.
"BI harus intervensi banyak. Sampai akhir tahun perkiraan saya rupiah akan bergerak di Rp 9.000 - Rp 9.200 per dollar AS," kata Tony.
Berdasarkan kurs tengah BI, harga rupiah Rabu (14/3) di Rp 9.193, per dollar AS. Rupiah melemah 0,66% dibanding akhir pekan lalu (9/3) di level Rp 9.133 per dollar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News










