Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan ekonomi terhadap masyarakat kelas menengah bawah kian terlihat pada awal 2026.
Kondisi ini tercermin dari melambatnya pertumbuhan simpanan rekening kecil di perbankan, di tengah masih tingginya kebutuhan konsumsi rumah tangga.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan simpanan rekening dengan saldo di bawah Rp 100 juta pada Maret 2026 hanya tumbuh 1,8% secara tahunan.
Angka ini turun tajam dibanding pertumbuhan 4,4% pada Februari 2026 dan 6,8% pada periode yang sama tahun lalu. Padahal, jumlah rekening di kelompok tersebut masih meningkat 7,1% secara tahunan.
Baca Juga: Dana Kelolaan Tabungan Haji BSI Tumbuh 14,68% Jadi Rp 15,65 Triliun Kuartal I-2026
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, Rizal Taufikurahman, menilai perlambatan pertumbuhan simpanan itu menandakan daya beli masyarakat masih tertekan.
Menurut dia, banyak rumah tangga terpaksa menguras tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat kenaikan biaya hidup, harga pangan yang tinggi, pelemahan rupiah, beban cicilan, hingga pendapatan yang belum pulih.
“Fenomena makan tabungan terjadi pada kelompok masyarakat yang pendapatannya tidak tumbuh secepat kenaikan pengeluaran,” ujar Rizal, Selasa (19/5/2026).
Ia memperkirakan tekanan terhadap tabungan masyarakat masih berlanjut sepanjang 2026 apabila nilai tukar rupiah terus melemah, suku bunga bertahan tinggi, dan harga kebutuhan pokok tetap bergejolak.
Namun, kondisi berpeluang membaik jika inflasi pangan terkendali, lapangan kerja bertambah, dan pendapatan masyarakat meningkat. Perlambatan simpanan segmen menengah bawah juga dirasakan perbankan.
Baca Juga: Tabungan SimPel Bank Mandiri Miliki 966.000 Rekening per Maret 2026
Head of Deposit Product Management Bank Mandiri, Mega Ekaputri Pujianto, mengatakan simpanan ritel di segmen tersebut per Maret 2026 hanya tumbuh sekitar 3%, lebih lambat dibanding periode sebelumnya.
Menurut Mega, sebagian masyarakat masih menggunakan tabungan untuk menopang konsumsi di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi global.
Meski demikian, Bank Mandiri mulai melihat perbaikan aktivitas transaksi nasabah dan arus kas di sejumlah sektor usaha.
Karena itu, Bank Mandiri tetap optimistis penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dapat tumbuh 8%-10% tahun ini, didukung stabilisasi inflasi, membaiknya aktivitas ekonomi domestik, dan penguatan konsumsi masyarakat.
Baca Juga: Rupiah Anjlok, Peminat Tabungan Valas Kian Merekah
Sementara itu, Direktur Network and Retail Funding PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), Rully Setiawan, menyebut tren simpanan masyarakat kelas menengah bawah mulai membaik meski belum sepenuhnya pulih.
Menurut dia, fenomena penggunaan tabungan untuk konsumsi masih terjadi pada sebagian kelompok masyarakat, tetapi tekanannya mulai berkurang. Nasabah juga dinilai masih berhati-hati dalam membelanjakan uang, namun perlahan kembali menabung.
BTN memperkirakan pertumbuhan DPK tahun ini cenderung stabil atau tumbuh terbatas.
Adapun tekanan terhadap tabungan masyarakat diperkirakan masih berlanjut jika terjadi gejolak harga kebutuhan pokok, meski ketahanan keuangan rumah tangga mulai menunjukkan perbaikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












