Reporter: Ferry Saputra | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Teknologi Merlin Sejahtera (UKU) membeberkan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kinerja laba penyelenggara fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar).
Chief Executive Officer UKU Tony Jackson mengatakan faktornya adalah kualitas pendanaan dan efisiensi operasional.
"Menghadapi faktor-faktor tersebut, UKU memilih tumbuh secara bertahap dan berkelanjutan dengan berorientasi pada pelanggan," katanya kepada Kontan, Kamis (22/10/2026).
Baca Juga: Pengadilan Niaga Batalkan Putusan KPPU Soal Suku Bunga Pinjol, Ini Respons AFPI
Tony menerangkan efisiensi dan efektivitas operasional dijalankan perusahaan secara menyeluruh, mulai dari pengajuan yang sepenuhnya digital, dokumentasi dan pelaporan yang terotomatisasi, hingga kanal pemasaran yang lebih tepat sasaran.
Hal itu dilakukan agar layanan mudah diakses dengan biaya yang terkendali.
Tony menyampaikan kualitas pendanaan dijaga melalui seleksi borrower yang ketat, dengan kriteria kelayakan yang dievaluasi secara berkala.
Dia bilang produk juga terus disesuaikan agar relevan dengan kebutuhan pelanggan.
Dengan pendekatan tersebut, Tony mengatakan UKU telah menyalurkan pendanaan sebesar Rp 687 miliar sepanjang Januari 2026 hingga September 2026.
Baca Juga: Mencermati Unsur Kolusi dalam Kasus Kartel Bunga Pindar
Sebagai informasi, laba komprehensif industri fintech P2P lending tercatat terkontraksi. OJK menyampaikan laba komprehensif industri fintech lending mencapai Rp 1,58 triliun per Agustus 2026. Nilainya terkontraksi 2,99%, jika dibandingkan periode sama tahun lalu.
Adapun outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 106,94 triliun per Agustus 2026. Nilai itu tercatat tumbuh sebesar 22,07%, jika dibandingkan periode sama tahun lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














