Reporter: Ade Priyatin | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai kinerja asuransi properti pada kuartal I-2026 masih menunjukkan ketahanan meskipun pertumbuhannya cenderung lebih moderat dibandingkan periode sebelumnya.
“Secara umum, kinerja asuransi properti pada kuartal I-2026 masih kami lihat cukup resilien, meskipun pertumbuhannya cenderung lebih moderat dibandingkan periode sebelumnya,” ujar Budi kepada Kontan, Rabu (13/5/26).
Di tengah kondisi tersebut, dinamika industri properti turut menjadi perhatian pelaku industri asuransi. Salah satu perusahaan agensi properti, Colliers Indonesia, mencatat permintaan lahan industri di Jabodetabek pada awal 2026 tumbuh lebih moderat. Investor pun masih cenderung menerapkan sikap wait-and-see di tengah volatilitas ekonomi global maupun domestik.
Menurut Budi, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi permintaan asuransi properti, terutama yang berasal dari proyek-proyek baru seperti kawasan industri, pabrik, gudang, hingga properti komersial.
Baca Juga: AAUI Nilai Pelemahan Rupiah Dapat Memberikan Dampak terhadap Bisnis Reasuransi
Meski demikian, dampaknya dinilai belum memberikan tekanan signifikan terhadap keseluruhan portofolio asuransi properti. Hal itu karena sebagian besar bisnis asuransi properti masih ditopang oleh perpanjangan polis atas aset yang telah beroperasi.
“Dengan kata lain, sikap wait and see lebih berpengaruh pada potensi bisnis baru atau ekspansi aset, bukan pada kebutuhan proteksi aset yang sudah berjalan,” jelasnya.
Budi menambahkan, selama aset tetap beroperasi, kebutuhan perlindungan terhadap berbagai risiko seperti kebakaran, banjir, bencana alam, gangguan usaha, hingga risiko lainnya akan tetap dibutuhkan oleh pelaku usaha.
Untuk menjaga kinerja lini properti, industri asuransi disebut akan lebih fokus pada penguatan kualitas underwriting dan disiplin dalam penilaian risiko. Langkah tersebut dinilai penting guna menjaga profitabilitas dan kesehatan portofolio perusahaan asuransi.
AAUI juga mendorong perusahaan asuransi untuk memperhatikan kecukupan tarif premi serta memperkuat mitigasi risiko di sisi tertanggung. Pasalnya, risiko properti saat ini semakin dipengaruhi oleh ancaman kebakaran, banjir, cuaca ekstrem, gempa bumi, hingga berbagai risiko tak terduga lainnya.
Baca Juga: Premi Reasuransi Banyak Lari ke Luar Negeri, AAUI Minta Industri Perkuat Daya Tahan
Selain itu, perusahaan asuransi dinilai perlu memperkuat dukungan reasuransi, meningkatkan kapasitas teknis dalam survei risiko, serta memperluas edukasi kepada pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan asuransi properti.
Dengan berbagai strategi tersebut, Budi optimistis prospek asuransi properti hingga akhir tahun tetap positif, meskipun pertumbuhannya diperkirakan akan lebih selektif dan mengikuti perkembangan sektor properti, konstruksi, kawasan industri, serta aktivitas pembiayaan perbankan.
Adapun untuk kinerja lini properti pada kuartal I-2026, AAUI menyebut data rinci per lini usaha masih dalam proses pengumpulan dan konsolidasi. Sepanjang 2025, lini asuransi properti tercatat membukukan premi sebesar sekitar Rp 32,87 triliun, tumbuh 8,6% dibandingkan 2024 yang sebesar Rp 30,27 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













