kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.805.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.241   -67,00   -0,39%
  • IDX 7.129   -249,12   -3,38%
  • KOMPAS100 967   -37,26   -3,71%
  • LQ45 691   -25,11   -3,51%
  • ISSI 259   -8,46   -3,16%
  • IDX30 382   -11,34   -2,88%
  • IDXHIDIV20 471   -11,15   -2,31%
  • IDX80 108   -4,04   -3,60%
  • IDXV30 137   -2,36   -1,69%
  • IDXQ30 123   -3,19   -2,53%

Kartu Kredit Non-Bank Diprediksi Tumbuh, Tapi Terdesak Tren QRIS dan BNPL


Jumat, 24 April 2026 / 18:04 WIB
Kartu Kredit Non-Bank Diprediksi Tumbuh, Tapi Terdesak Tren QRIS dan BNPL
ILUSTRASI. Layanan kartu kredit non-bank tetap tumbuh meski lambat.


Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penggunaan kredit non-bank diproyeksikan tetap tumbuh di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan digital masyarakat, meski harus bersaing ketat dengan layanan buy now pay later (BNPL) dan transaksi berbasis QRIS.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies Nailul Huda menilai bahwa produk kartu kredit non-bank masih bisa tumbuh meski lajunya relatif lambat. Menurutnya, produk tersebut menyasar kelompok masyarakat unbanked dan underbanked karena tidak mensyaratkan kepemilikan saldo maupun tabungan.

“Kartu kredit non-bank ini ditujukan pada kelompok unbanked dan underbanked society. Memudahkan kelompok ini dalam melakukan pembiayaan guna belanja dan sebagainya,” ujar Nailul kepada Kontan, Kamis (23/4/2026).

Baca Juga: Pembiayaan BJB Syariah Tumbuh 15,36% pada Kuartal-1 2026

Ia menjelaskan, secara konsep kartu kredit non-bank memiliki kemiripan dengan layanan BNPL yang lebih dulu berkembang di industri keuangan digital. Keduanya sama-sama menawarkan pinjaman dengan plafon tertentu untuk kebutuhan belanja.

Adapun perbedaannya, BNPL sepenuhnya berbasis digital tanpa kartu fisik, sedangkan kartu kredit non-bank masih menyediakan kartu fisik kepada pengguna. Namun, Nailul menilai perbedaan keduanya semakin tipis seiring integrasi kartu kredit non-bank dengan QRIS.

“Sekarang kartu kredit non-bank ini juga mengintegrasikan dengan QRIS. Jadi perbedaannya semakin tipis dengan BNPL,” katanya.

Dari sisi pendanaan, Nailul menyebut kartu kredit non-bank umumnya mengandalkan modal awal perusahaan dan penerbitan obligasi. Ke depan, ia memperkirakan akan ada kerja sama yang lebih matang dengan perbankan, khususnya bank digital, dalam penyediaan sumber dana.

Di sisi lain, ia menilai tantangan terbesar industri terletak pada perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi. Menurutnya, masyarakat kini lebih memilih menggunakan QRIS dibandingkan kartu untuk pembayaran.

Kendati demikian, integrasi dengan QRIS dinilai dapat menjadi solusi bagi pengembangan kartu kredit non-bank. Meski begitu, Nailul melihat layanan BNPL masih menjadi produk pembiayaan digital yang paling diminati masyarakat saat ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×