kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.613.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 18.107   72,00   0,40%
  • IDX 6.183   -2,63   -0,04%
  • KOMPAS100 808   1,43   0,18%
  • LQ45 614   1,74   0,28%
  • ISSI 214   -0,13   -0,06%
  • IDX30 346   0,71   0,21%
  • IDXHIDIV20 428   0,49   0,12%
  • IDX80 92   0,28   0,30%
  • IDXV30 117   0,42   0,36%
  • IDXQ30 111   0,29   0,26%

Kenaikan Yield Obligasi Dorong Permintaan Kredit Perbankan, Bank Mandiri Optimistis


Selasa, 28 Juli 2026 / 11:36 WIB
Kenaikan Yield Obligasi Dorong Permintaan Kredit Perbankan, Bank Mandiri Optimistis
ILUSTRASI. Nasabah menabung di Bank Mandiri, Jakarta, (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan yield obligasi berpotensi mendorong pelaku usaha untuk kembali mempertimbangkan kredit perbankan sebagai alternatif sumber pendanaan.

Lembaga pemeringkat efek PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat ada total Rp 87,35 triliun obligasi yang diterbitkan korporasi nasional sepanjang semester I-2026. Nominalnya turun 3,91% secara tahunan (year-on-year/yoy). 

Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo Suhindarto menyebut, melandainya penerbitan obligasi oleh korporasi ini salah satunya disebabkan oleh peningkatan biaya dana seiring naiknya suku bunga acuan selama kuartal II-2026. 

Untuk obligasi korporasi dengan rating relatif rendah, utamanya A ataupun BBB, yield yang ditawarkan bakal cenderung lebih tinggi ketimbang bunga kredit bank. Dus, korporasi perlu menggelontorkan biaya dana lebih besar jika memutuskan menerbitkan obligasi alih-alih mengambil kredit bank. 

“Sehingga mungkin memang akhirnya membuat penerbitan lebih selektif di tahun ini,” ujar Darto dalam konferensi pers daring pekan lalu. 

Baca Juga: Kendati Rasio Permodalan Susut, Bank Tetap Pede Salurkan Kredit

Menurut Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, kenaikan imbal hasil obligasi memengaruhi pertimbangan perusahaan dalam menentukan sumber pembiayaan. 

Ia bilang kondisi tersebut membuka peluang bagi kredit perbankan, khususnya untuk pembiayaan investasi dan modal kerja.

"Kondisi ini dapat membuka peluang bagi kredit perbankan, khususnya untuk pembiayaan investasi dan modal kerja, sepanjang struktur pembiayaan yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan dan arus kas debitur," ujar Adhika kepada Kontan, Senin (28/7/2026).

Meski demikian, ia menegaskan keputusan pendanaan perusahaan tak cuman mempertimbangkan biaya dana, tetapi juga tenor, fleksibilitas, kondisi pasar, serta diversifikasi sumber pendanaan.

Di tengah peluang tersebut, Bank Mandiri mencatat permintaan pembiayaan dari sektor riil masih tumbuh solid. Hingga Juni 2026, penyaluran kredit bank only Bank Mandiri mencapai Rp 1.592 triliun atau tumbuh 19,9% secara tahunan. 

Realisasi tersebut melampaui pertumbuhan kredit industri perbankan yang tercatat sebesar 12,7%.

Baca Juga: OJK: Kredit Menganggur Perbankan Bukan Cerminan Lemahnya Permintaan

Secara rinci, kredit investasi Bank Mandiri mencapai Rp 850 triliun atau meningkat 31,8% secara tahunan. Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh 14,3% secara tahunan menjadi Rp 510 triliun.

Selain itu, penyaluran kredit kepada ekosistem pemerintahan dan badan usaha milik negara (BUMN) juga meningkat 41,6% secara tahunan menjadi Rp 489 triliun, terutama untuk mendukung proyek strategis, infrastruktur, dan sektor energi.

Adhika optimistis pertumbuhan kredit hingga akhir 2026 tetap terjaga seiring masih kuatnya permintaan pembiayaan dari dunia usaha. Menurutnya, selain dipengaruhi dinamika biaya pendanaan di pasar obligasi, permintaan kredit juga akan ditopang oleh aktivitas investasi, kebutuhan modal kerja, serta keberlanjutan proyek strategis di berbagai sektor.

Untuk menangkap peluang tersebut, Bank Mandiri terus memperkuat solusi pembiayaan dan ekosistem digital melalui Livin' by Mandiri, Livin' Merchant, dan Kopra by Mandiri. Bank juga menegaskan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian agar pertumbuhan kredit berlangsung secara berkelanjutan dengan kualitas aset yang tetap terjaga.

Baca Juga: Kredit Perbankan Tumbuh 12,1% pada Juni 2026, Kredit Investasi Masih Jadi Penopang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×