Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio / CAR) industri perbankan terus menurun dalam setahun terakhir. Kendati demikian, kondisi permodalan bank dinilai masih sangat kuat sehingga belum membatasi ruang ekspansi kredit hingga akhir 2026.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, CAR industri perbankan tercatat 23,74% pada Mei 2026. Angka tersebut turun dibandingkan April 2026 yang sebesar 23,97% dan lebih rendah dibandingkan posisi Mei 2025 yang mencapai 25,48%.
Head of Research and Product Development Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan menilai, penurunan rasio CAR tersebut merupakan bagian dari normalisasi permodalan seiring mulai meningkatnya fungsi intermediasi perbankan.
Baca Juga: OJK Pastikan Bank dengan CAR Tipis Dipantau Berkala
Menurutnya, modal bank kini mulai dimanfaatkan lebih produktif untuk mendukung pertumbuhan kredit sehingga aset tertimbang menurut risiko (risk weighted assets) meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan modal.
"Penurunan CAR lebih mencerminkan normalisasi permodalan daripada pelemahan fundamental industri. Dengan posisi CAR yang masih sangat tinggi dan jauh di atas ketentuan minimum regulator, ruang ekspansi kredit hingga akhir tahun tetap besar," ujar Trioksa kepada Kontan, Kamis (23/7).
Ia menilai, faktor yang lebih menentukan agresivitas penyaluran kredit saat ini bukan keterbatasan modal, melainkan kualitas permintaan kredit, prospek ekonomi, kemampuan bayar debitur, serta manajemen risiko di tengah suku bunga yang masih relatif tinggi.
Karena itu, bank diperkirakan tetap selektif dalam menyalurkan kredit, namun bukan karena tekanan permodalan.
"Bank akan tetap fokus menyalurkan kredit ke sektor-sektor yang prospektif tanpa harus menahan ekspansi hanya demi menjaga CAR," katanya.
Trioksa memperkirakan, CAR industri perbankan akan bergerak di kisaran 22,5%-23,5% hingga akhir tahun. Menurutnya, penurunan tersebut masih tergolong sehat karena ditopang profitabilitas industri yang kuat melalui laba ditahan, serta berbagai opsi penguatan modal apabila diperlukan.
"Penurunan CAR yang berlangsung secara terkendali justru menjadi sinyal positif bahwa fungsi intermediasi perbankan berjalan lebih optimal, selama kualitas aset tetap terjaga dan risiko kredit terkendali," ujarnya.
Baca Juga: Perbankan Jaga Kecukupan Modal untuk Menghadapi Gejolak Global
Di sisi lain, OJK memastikan gejolak pasar keuangan global belum memberikan tekanan berarti terhadap ketahanan permodalan industri perbankan nasional.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan, kondisi perbankan Indonesia masih tetap resilien di tengah volatilitas pasar global.
"Kondisi perbankan Indonesia masih tetap resilien di tengah volatilitas pasar global," ujarnya.
Menurut Dian, CAR industri perbankan sebesar 23,74% masih mencerminkan bantalan modal (capital buffer) yang memadai untuk menyerap berbagai potensi risiko yang berasal dari dinamika ekonomi maupun gejolak pasar keuangan global.
"Ketahanan permodalan perbankan juga tercatat kuat dengan buffer mitigasi risiko yang memadai, tecermin dari CAR sebesar 23,74%," katanya.
OJK menilai permodalan yang kuat menjadi fondasi penting bagi industri perbankan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung penyaluran kredit ke sektor riil di tengah ketidakpastian global.
Sejumlah bank juga memastikan posisi permodalannya masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan bisnis.
Direktur Utama PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) Kunardy Dharma Lie mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah memang meningkatkan sejumlah risiko yang perlu diantisipasi perbankan.
Menurutnya, depresiasi rupiah berpotensi meningkatkan risiko kredit, mendorong kenaikan rasio kredit bermasalah (non-performing loan / NPL), memengaruhi kecukupan modal, hingga meningkatkan risiko pada portofolio kredit valuta asing.
Baca Juga: Menengok Bank-Bank dengan Rasio Kecukupan Modal Tipis, Apa Risikonya?
Meski demikian, ia memastikan posisi permodalan KB Bank masih cukup kuat. CAR KB Bank tercatat berada di level 16,06%, sehingga masih memadai untuk menyerap potensi kerugian kredit yang mungkin timbul.
Sementara itu, Direktur Risk Management PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), Setiyo Wibowo mengatakan, permodalan merupakan fondasi utama perseroan dalam mendukung pertumbuhan bisnis, termasuk menjalankan berbagai penugasan pemerintah di sektor perumahan.
Pada semester I 2026, CAR BTN berada di kisaran 20%, meningkat dibandingkan 17,5% pada periode yang sama tahun lalu.
"Posisi permodalan BTN berada dalam kondisi yang memadai dan siap mendukung ekspansi bisnis dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta kesesuaian dengan risk appetite yang telah ditetapkan," ujar Setiyo.
Baca Juga: Bank Himbara Pastikan Kecukupan Modal di Tengah Berbagai Penugasan Pemerintah
BTN menargetkan menjaga CAR di kisaran 18%-20%, yang dinilai optimal untuk menyeimbangkan kebutuhan ekspansi kredit, penugasan pemerintah, dan ketahanan modal terhadap berbagai potensi risiko.
Meski demikian, BTN tetap menyiapkan sejumlah opsi penguatan modal apabila dibutuhkan, mulai dari penerbitan surat berharga yang memiliki karakteristik modal, shareholder loan, hingga aksi korporasi berupa rights issue.
Langkah tersebut disiapkan sebagai antisipasi agar perseroan tetap memiliki fleksibilitas permodalan seiring meningkatnya kebutuhan ekspansi bisnis.
Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga masih mencatatkan rasio CAR yang sangat kuat. Hingga kuartal I 2026, CAR BCA mencapai 27%, meningkat dibandingkan 26,6% pada periode yang sama tahun lalu.
Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn mengatakan perseroan terus menjaga posisi permodalan dan likuiditas agar tetap solid di tengah ketidakpastian global.
"BCA senantiasa mempertahankan posisi permodalan dan likuiditas yang solid guna menghadapi ketidakpastian global," ujar Hera.
Perseroan juga secara konsisten melakukan stress test untuk memastikan ketahanan permodalan tetap terjaga.
Hingga kuartal I 2026, penyaluran kredit BCA mencapai Rp994 triliun, tumbuh 5,6% secara tahunan. Sementara itu, laba bersih meningkat 3,8% menjadi Rp14,7 triliun.
Baca Juga: Perbankan Atur Strategi Jaga Kecukupan Modal Tahun 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














