Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Beban biaya dana alias cost of fund (CoF) perbankan nasional dinilai masih belum sepenuhnya turun signifikan, meski Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga acuan beberapa kali sepanjang tahun lalu.
Penurunan biaya dana perbankan masih berlangsung secara bertahap dan membutuhkan waktu sebelum benar-benar terasa ke kinerja bank.
Seperti diketahui, Bank Indonesia telah menurunkan bunga acuan beberapa kali di tahun 2025 lalu.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menjelaskan, secara historis dibutuhkan waktu sekitar 6 hingga 12 bulan agar suku bunga dasar perbankan dapat menyesuaikan diri dengan penurunan suku bunga acuan BI.
“Cost of fund kita memang masih cukup tinggi, tetapi sudah lebih rendah dibandingkan awal 2025. Penyesuaian biasanya dimulai dari bunga deposito terlebih dahulu sebelum bank bisa menurunkan bunga kredit,” ujar Nailul kepada Kontan.co.id, Selasa (13/1/2026).
Baca Juga: DPK Bank Kecil Tertekan pada 2025, Strategi Agresif Disiapkan Sambut 2026
Ia menilai, hingga saat ini CoF perbankan belum bisa dikatakan murah. Namun, arah penurunannya sudah terlihat. Salah satu indikasinya tercermin dari pertumbuhan kredit perbankan yang masih berada di kisaran 7,8%–7,9%, menandakan ruang pelonggaran biaya dana belum sepenuhnya optimal.
Memasuki 2026, peluang penurunan CoF dinilai masih terbuka seiring potensi lanjutan pelonggaran moneter oleh BI. Meski demikian, Nailul mengingatkan bahwa penurunan suku bunga tidak serta-merta langsung mendorong lonjakan kredit maupun peningkatan kinerja intermediasi perbankan.
Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan lagi berada di sisi penawaran (supply), melainkan permintaan (demand) kredit. Likuiditas perbankan relatif memadai, tercermin dari masih tingginya undisbursed loan, namun permintaan kredit cenderung melambat.
“Suku bunga acuan sudah dipangkas cukup signifikan, tapi pertumbuhan kredit masih stagnan. Artinya supply sebenarnya oke, tapi demand bermasalah karena daya beli masyarakat masih tertekan,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat dunia usaha cenderung menahan ekspansi, sehingga kebutuhan kredit baru tidak tumbuh agresif. Dengan demikian, potensi penurunan CoF belum tentu langsung berdampak pada kenaikan laba bunga bersih atau net interest income (NII) perbankan secara signifikan.
Nailul menegaskan, strategi mendorong pertumbuhan kredit tidak bisa lagi hanya mengandalkan pelonggaran moneter atau penurunan suku bunga dari sisi perbankan. Fokus utama yang perlu dibenahi adalah pemulihan daya beli masyarakat.
“Agenda utama peningkatan perekonomian adalah memperbaiki daya beli. Itu bisa dilakukan melalui peningkatan insentif penciptaan lapangan kerja dari sisi fiskal,” ujarnya.
Baca Juga: Dana Pensiun BRI, Diklaim Dapat Cari dalam 3 Hari Kerja, Tanpa ke Kantor Cabang
Dari sisi perbankan, Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) atau OK Bank Efdinal Alamsyah menjelaskan, penurunan CoF saat ini masih tertahan oleh sejumlah faktor struktural.
Di antaranya, komposisi dana pihak ketiga (DPK) yang masih didominasi dana mahal, adanya repricing lag pada deposito berbunga tinggi yang belum jatuh tempo, serta persaingan likuiditas yang masih relatif ketat di industri perbankan.
“Penurunan cost of fund akan lebih terasa setelah siklus roll-over deposito berbunga tinggi bergeser ke suku bunga yang lebih rendah,” ujar Efdinal.
Ia menambahkan, dengan asumsi BI kembali memangkas suku bunga acuan pada 2026, suku bunga deposito dan instrumen pendanaan lain diperkirakan akan kembali turun secara bertahap. Namun, transmisi penurunan CoF tetap bersifat gradual.
“Bank dengan porsi dana murah atau CASA yang tinggi akan merasakan penurunan cost of fund lebih cepat. Sebaliknya, bank yang masih bergantung pada deposito mahal akan mengalami penyesuaian yang lebih lambat,” jelasnya.
Dari sisi kinerja, Efdinal menilai net interest income (NII) berpotensi membaik seiring penurunan CoF dan meningkatnya pertumbuhan kredit. Kendati demikian, lonjakan NII yang signifikan belum tentu terjadi dalam waktu dekat.
Pasalnya, perbankan masih menghadapi tekanan untuk menurunkan suku bunga kredit, konsentrasi pertumbuhan kredit pada debitur prime dengan yield relatif rendah, serta tekanan biaya lain seperti pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), beban regulasi, dan investasi teknologi informasi serta digitalisasi.
Untuk menyikapi kondisi tersebut, OK Bank menyiapkan sejumlah strategi, antara lain memperkuat penghimpunan dana murah, melakukan penyesuaian suku bunga kredit secara bertahap dengan pendekatan risk-based pricing, serta meningkatkan pendapatan berbasis komisi (fee-based income) dan efisiensi operasional.
Baca Juga: Bank CIMB Niaga Optimistis Kredit UMKM Tumbuh Kencang pada 2026
“Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga margin bunga bersih (NIM) dan mendukung pertumbuhan NII yang lebih sehat pada 2026,” kata Efdinal.
Sejalan dengan itu, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan menyampaikan bahwa cost of fund CIMB Niaga telah menunjukkan penurunan baik secara tahunan (year on year) maupun kuartalan (quarter on quarter).
“Secara YoY dan QoQ, cost of fund turun sekitar 20 basis poin. Kami berharap tren ini masih bisa berlanjut secara bertahap sehingga lebih positif bagi nasabah kredit,” ujar Lani.
Meski demikian, Lani menilai perbaikan margin bunga bersih dan NII masih memerlukan waktu. Lemahnya permintaan kredit menjadi salah satu faktor yang menahan percepatan perbaikan kinerja bunga perbankan.
“Dari sisi NIM mungkin masih perlu waktu untuk membaik, karena permintaan kredit juga masih lemah, sehingga berdampak ke NII,” pungkasnya.
Selanjutnya: Harga Garam Kasar Naik Hampir 100% hingga Akhir 2025
Menarik Dibaca: Hujan Sangat Deras Guyur Provinsi Ini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (14/1)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












