kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   19.000   0,67%
  • USD/IDR 17.099   75,00   0,44%
  • IDX 6.971   -18,40   -0,26%
  • KOMPAS100 958   -7,36   -0,76%
  • LQ45 702   -6,10   -0,86%
  • ISSI 250   -0,25   -0,10%
  • IDX30 382   -5,99   -1,54%
  • IDXHIDIV20 472   -9,70   -2,02%
  • IDX80 108   -0,78   -0,72%
  • IDXV30 130   -2,34   -1,76%
  • IDXQ30 124   -2,23   -1,77%

Kinerja Industri BPR Stabil, OJK Kebut Konsolidasi dan Penguatan Modal


Selasa, 07 April 2026 / 18:37 WIB
Kinerja Industri BPR Stabil, OJK Kebut Konsolidasi dan Penguatan Modal
ILUSTRASI. BPR Syariah Summit 2024 (Peruri/dok)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa kinerja Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) masih mencatatkan pertumbuhan yang stabil sepanjang tahun 2025.

Berdasarkan data OJK, per Desember 2025, total aset tumbuh 5,60% secara tahunan (year on year/yoy), didorong oleh penyaluran kredit yang meningkat 5,94% yoy menjadi Rp177,42 triliun.

Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh 5,86% yoy menjadi Rp169,69 triliun.

Permodalan industri masih kuat, tercermin dari rasio capital adequacy ratio (CAR) BPR sebesar 28,91% dan BPRS sebesar 19,73%, jauh di atas ketentuan minimum.

Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NPL) disebut mengalami sedikit kenaikan secara tahunan, namun masih dalam level yang dapat dikelola.

Baca Juga: OJK Cabut Izin Enam BPR dan Restui Merger 12 BPR di Kuartal I-2026

Di sisi lain, OJK terus mempercepat konsolidasi industri bank perekonomian rakyat (BPR) dan BPR syariah (BPRS) guna memperkuat struktur permodalan dan daya saing industri.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan OJK saat ini tengah menyusun aturan terkait permodalan BPR/BPRS sebagai dasar pembentukan klasifikasi industri.

“OJK tengah menyusun pengaturan permodalan sebagai landasan klasifikasi BPR yang saat ini masih dalam proses kajian,” ujarnya dalam jawaban tertulis, dikutip Selasa (7/4/2026).

Langkah ini merupakan bagian dari implementasi Roadmap Pengembangan dan Penguatan Industri BPR/S (RP2B) yang diluncurkan pada 2024.

Di sisi lain, tren konsolidasi BPR terus berlanjut. Hingga 11 Maret 2026, sebanyak 142 BPR/BPRS telah efektif melakukan konsolidasi menjadi 50 entitas.

Selain itu, terdapat 22 BPR/BPRS yang sedang dalam proses penggabungan menjadi 6 entitas di Kementerian Hukum, serta 242 BPR/BPRS lainnya masih dalam proses di OJK.

“OJK melihat tren penurunan jumlah BPR masih berlanjut seiring konsolidasi dan pencabutan izin usaha,” jelas Dian.

Sementara itu, Direktur Utama BPR Hasamitra I Nyoman Supartha yang akrab disapa Mansu mengaku, bisnis perusahaan berjalan baik, kinerja juga tetap tumbuh sesuai rencana.

"Sedikit sentimen yang mempengaruhi bisnis yakni masyarakat sudah membeli obligasi, dan pasar kredit sudah mengarah ke bank pelat merah," ungkap Mansu.

Baca Juga: OJK Restui Penggabungan 4 BPR ke PT BPR Nusamba Tanjungsari

Per Agustus 2025 kinerja kredit BPR Hasamitra tumbuh 3% secara year to date (ytd) dari Desember 2024 Rp 2,67 triliun ke Rp 2,75 triliun pada posisi Agustus 2025. Adapun dari sisi DPK, tabungan tumbuh 3,12% ytd menjadi Rp 290,26 miliar pada Agustus 2025, dan deposito tumbuh 3,26% ytd menjadi Rp 1,90 triliun pada Agustus 2025.

"NPL Bruto kami juga tetap terjaga di angka 1,07% per posisi Agustus 2025," katanya.

Sementara itu BPR Hariarta Sedana mencatat penurunan kredit pada Juni 2025 mencapai 27,30% yoy menjadi Rp 293,32 miliar, adapun laba anjlok 84,79% menjadi Rp 243 juta per Juni 2025, dan DPK susut 28,16% yoy menjadi Rp 360,37 miliar

Direktur Operasional BPR Hariarta, Doly Purba mengakui, pada tahun 2025 ini, kinerja bisnis sektor industri Bank Perekonomian Rakyat menghadapi tantangan antara lain perkembangan teknologi layanan perbankan dengan digitalisasi, dimana dalam hal ini BPR memiliki keterbatasan sumber daya dan dana.

"Gejolak ekonomi global yang juga mempengaruhi ekonomi domestik dan lokal. Keterbatasan akses pendanaan dan likuiditas antara lain disebabkan menurunnya tingkat suku bunga LPS," katanya. 

Walau demikian, Bank Hariarta tetap optimis untuk tumbuh dan mencapai kinerja bisnis tahun 2025 sebagaimana yang sudah dituangkan dalam RBB 2025 dengan melakukan strategi dan program antara lain efisiensi operasional, berkolaborasi dengan mitra fintech untuk pengumpulan dana pihak ketiga.

Selain itu, fokus pada segmen spesifik seperti UMKM untuk meningkatkan penyaluran kredit, bekerja sama dengan mitra penagihan untuk penyelesaian kredit bermasalah dan terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada nasabah serta meningkatkan Kompetensi SDM.

Baca Juga: LPS Ungkap Tantangan BPR/BPRS: Tata Kelola hingga Profesionalitas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×